Pendakian Gunung Sunan Ibu dan Curuk Betang Pajajaran di Ciwiday
Jawa Barat – www.bakinonline.com
Gunung Sunan Ibu berada di atas kawasan Kawah Putih Ciwidey, Kabupaten Bandung dengan ketinggian 2.300–2.434 mdpl, dengan durasi pendakian kurang lebih 20-30 menit dari area parkir atas, wisata Kawah Putih. gunung Sunan Ibu merupakan salah satu kawah dari gunung Patuha
Nama Sunan Ibu dari kisah masyarakat setempat, mereka percaya bahwa tempat tersebut dihuni oleh ibu para leluhur yang makamnya ada di kawasan Kawah Putih. Sehingga kawasan Puncak Sunan Ibu dimaknai sebagai tempat petilasan keramat yang sering didatangi orang untuk berziarah.
Sudarjono (Darjono) Pecinta Alam Pumapala Indonesia, bersama kerabat tim pendakian dari beberapa daerah mencoba melakukan pendakian gunung Sunan Ibu di Ciwiday seputar wisata di Bandung Selatan, (Kabupaten Bandung).
Pemberangkatan dimulai dari Metro, Kota Bandung pukul 02.00 Wib, menempuh perjalanan sekita 2 jam 30 menit dengan kendaraan roda 4 (empat) hingga sampai di tempat parkir atas kawasan Kawah Putih Ciwiday. Setelah melakukan solat subuh pendakian dimulai dengan memakan waktu kurang lebih 20 menit.
Jalan menuju puncak gunung Sunan ibu tergolong mudah, namun cukup melelahkan karena jalan yang lumayan menantang dengan udara yang cukup dingin, sampainya di puncak kita dimanjakan dengan pemandangan alam yang indah dan menakjubkan sambil menunggu matahari terbit (sunrise).
Kepada rekan-rekan yang akan mendaki gunung Sunan ibu agar menggunakan jaket tebal dan rerlengkapan hangat, karena suhu pegunungan dimalam hari hingga menjelang padi dingin dan sangat menusuk tulang.
Setelah puas menikmati keindahan di sekeliling gunung Sunan Ibu, perjalanan dilanjutkan menuju ke Kawah Putih yang lokasinya dibawah puncak gunung Sunan ibu, kemudian turun gunung untuk sarapan pagi menuju siang hari di lokasi parkir bawah.
Darjono menyoal, tarif ticket masuk masuk Rp 46.000,- per-orang dan kendaraan pribadi roda 4 sebesar Rp. 178.000,- dinilai mahal mengingat sepanjang jalan menuju ke lokasi yang gelap, terjal dan banyak tikungan tidak dibarengi fasilitas rambu-rambu jalan yang memadai, seperti :
- Tiidak ada penerang sepanjang jalan;
- Tidak ada garis jalan (marka jalan);
- Tidak ada patok scotlite di kanan- kiri jalan;
- Rambu p-etunjuk jalan yang dibuat tidak standar;
- Dan lainnya. Sehingga jalan menuju lokasi tersbut sangat membahayakan bagi kendaraan di malam hari atau pagi dini hari, tarif tersebut dinilai melebihi tarif jalan Tol.
Setelah cukup istrirahat, kemudian dilanjutkan hiking / tracking menuju curuk Bentang Pajajaran masih di seputaran Ciwiday sambil, balik kanan menuju ke arah pulang.
Curug Bentang Pajajaran Ciwidey menyimpan legenda sebagai tempat bersemedi Presiden Soekarno (bung Karno), merupakan lokasi sakral sebagai salah satu tempat pemohonan do’a. Konon bung Karno pernah bertapa di atas sebuah batu besar menyerupai kapal di kawasan hutan sekitar curuk Benteng Pajajaran, tempat tersebut diyakini menjadi titik saat bung Karno menerima wangsit atau titah spiritual.
Dari jalan raya menuju tempat parkir Curug Bentang Pajajaran menelusuri jalan tanah dan bebatuan, Namun, dapat dilalui kendaraan roda 2 maupun roda 4, sampai di tempat parkir memakan waktu sekitar 20-30 menit.
Hiking /Trecking dimulai setelah masuk pintu gerbang dengan membayar ticket Rp 15.000,- per orang untuk menuju Curuk Bentang Pajajaran yang berhadapan dengan Curuk Munding, dan kalau diteruskan trecking sekitar 30-40 menit akan sampai ke Curuk Lumut.
Dengan berjalan kaki (hiking) sekitar 30-40 menit sampailah ke curuk Bentang Pajajaran, sepanjang jalan setapak kanan –kiri dipenuhi pohon-pohon hutan yang menjulang tinggi, sehingga jalan setapak yang terjal dan berbelok-belok terasa nyaman karena teduh dengan angina semilir yang menerpa sangat menyegarkan
Curuk Lumut, curuk Bentang Pajajaran dan curuk Munding sangat jernih dan dingin sekali, air tersebut berasal dari gunung Patoha yang tidak pernah kering walaupun musim kemarau panjang.
Suasana di sekitar curuk Bentang Pajajaran sangat sejuk, indah dan menakjubkan penuh persahabatan dengan nuansa alam yang asli. membuat pengujung betah dan enggan untuk meninggalkan tempat tersebut.
Setelah dimanjakan dengan air yang sejuk dan jenih yang mengalir cukup deras dan setelah cukup istirahat, perjalankan dilanjutkan kebawah menuju tempat parkir untuk istirahat menuju Soreang di Café Bilik Sarasa untuk sholat Luhur, istirahat, makan siang dan pulang menuju Kota Bandung, “perjalanan dinyatakan selesai.”
(ria/jurn.bkn/d)













