Harga Sapi Melonjak di Bandung
BANDUNG, www.bakinonline.com – Kenaikan harga sapi hidup di Kota Bandung tidak sepenuhnya dipandang sebagai kabar buruk oleh pedagang daging sapi.
Sebagian pedagang kecil justru menilai lonjakan harga tersebut membuat persaingan harga di pasar menjadi lebih terkendali.
Pedagang daging sapi di Pasar Andir, Dodi, mengatakan, harga sapi yang murah kerap membuat pedagang bermodal besar meningkatkan jumlah pemotongan sapi dalam skala besar.
“Mereka bisa memotong hingga enam sampai delapan ekor sapi per hari, jauh di atas pedagang kecil rata-rata hanya satu ekor,” kata dia, saaat ditemui Tribun Jabar di Rumah Potong Hewan (RPH) Ciroyom, Selasa (19/5/2026).
Menurut Dodi, kondisi itu membuat harga daging sapi di pasar ditekan serendah mungkin.
Strategi tersebut biasanya dilakukan pedagang besar agar stok daging cepat berputar.
Namun, situasi itu membuat pedagang kecil semakin sulit bersaing.
Margin keuntungan pedagang kecil pun ikut tergerus karena mereka tidak memiliki ruang besar untuk menurunkan harga.
“Kalau sapi murah, orang-orang yang motong banyak itu jualnya murah. Harga jadi dibanting-banting, akhirnya yang rugi pedagang kecil,” kata Dodi.
Pedagang kecil sulit bersaing saat harga dibanting
Dodi mengatakan, skala usaha pedagang kecil berbeda jauh dibanding pedagang besar.
Ia mengaku hanya memotong satu ekor sapi per hari.
Jumlah itu membuat pedagang kecil tidak bisa terlalu leluasa mengatur harga jual.
Kondisi berbeda dialami pedagang besar yang mampu memotong enam hingga delapan ekor sapi per hari.
Menurut Dodi, pedagang dengan volume pemotongan besar lebih mudah memainkan harga di pasar.
“Kalau saya sehari cuma satu ekor. Yang ngerusak harga itu yang potongannya banyak, ada yang enam, ada yang delapan,” ujarnya.
Harga sapi naik, persaingan lebih terkendali
Dodi menilai, kenaikan harga sapi hidup saat ini membuat pedagang besar lebih berhati-hati dalam mengambil stok.
Situasi tersebut membuat praktik perang harga tidak seagresif ketika harga sapi berada di level murah.
Menurut dia, kondisi pasar menjadi lebih nyaman bagi pedagang kecil karena tidak banyak pedagang yang berani memotong sapi dalam jumlah besar.
“Dengan harga seperti ini malah lebih nyaman. Orang jadi enggak sembarangan motong banyak,” katanya.
Meski demikian, Dodi tidak menampik bahwa harga sapi saat ini sudah tergolong tinggi.
Kenaikan itu tetap memberi tekanan terhadap pasar dan memengaruhi harga jual daging sapi kepada konsumen.
Namun, ia menyebut pedagang kecil masih bisa memperoleh keuntungan selama mampu mencari pasokan dengan harga lebih kompetitif.
“Memang mahal, tapi kalau pintar cari barang yang lebih murah, masih ada untung,” ujarnya.
Tetap berjualan saat pedagang lain mogok
Di tengah kenaikan harga daging sapi, sejumlah pedagang memilih melakukan aksi mogok berjualan selama dua hari.
Namun, Dodi memilih tetap membuka lapak.
Ia mengaku keputusan itu diambil setelah berkomunikasi dengan pedagang dari pasar lain, termasuk Pasar Ujungberung.
Aksi mogok tersebut dipicu kenaikan harga daging sapi dari rumah potong hewan yang disebut naik hingga Rp 10.000 per kilogram.
Saat ini, harga jual daging sapi di pasaran disebut menembus sekitar Rp 150.000 per kilogram.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pasar tradisional tetap memilih mogok berjualan.
Salah satunya terlihat di Pasar Kosambi, Kota Bandung.
Minta pemerintah jaga stabilitas harga
Dodi berharap pemerintah tidak hanya fokus pada upaya menstabilkan harga daging sapi.
Menurut dia, pemerintah juga perlu memperhatikan keseimbangan persaingan usaha antara pedagang kecil dan pedagang besar.
Persaingan yang terlalu timpang dinilai dapat membuat pedagang kecil semakin tertekan.
“Harapannya harga bisa lebih stabil, jadi semua pedagang bisa jalan,” kata dia.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul “Sisi Lain Harga Sapi Meroket di Bandung: Pedagang Kecil Malah Senang karena Perang Harga Terhenti”.
Sarah m/jurnbkn/d












