Mubeng Beteng Malam 1 Suro 2026 Yogyakarta Diawali dengan Wayang Langka
YOGYAKARTA, WWW.BAKINONLINE.COM – Ada yang berbeda pada Gelaran Lampah Budaya Mubeng Beteng oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta tahun ini. Acara tersebut akan diadakan pada Selasa (16/6/2026) mulai pukul 00.00 WIB.
Sebelum berjalan memutari beteng, para peserta menikmati pertunjukan wayang kulit terlebih dahulu, yang mana merupakan peristiwa langka.
Pertunjukan tersebut merupakan Pagelaran Ringgit Wacucal Gedhog persembahan Kawedanan Kridhamardawa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Mengambil cerita Panji dengan lakon “Jaya Berdangga”, pementasan wayang kulit Gedhog ini akan berlangsung sekitar empat jam mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB dengan dalang MB. Cermo Wignyoutomo.
“Biasanya menyambut Tahun Baru Jawa ini kan Paguyuban Abdi Dalem menyelenggarakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng. Nah tahun ini, kami dari Kawedanan Kridhamardawa turut mangayubagya dengan menghadirkan pementasan wayang kulit gedhog yang digelar sebelum jalannya lampah budaya mubeng beteng tersebut,” kata salah satu Abdi Dalem Dalang Kawedanan Kridhamardawa yang mengemban tugas sebagai pimpinan produksi pementasan, MB. Cermo Gupito, Sabtu (13/6/2026).
Menurut MB. Cermo Gupito, masyarakat dapat memaknai pementasan wayang dalam rangka mencari “sangu” atau bekal untuk introspeksi diri.
“Tentu saja dalam gelaran cerita wayang banyak falsafah kehidupan yang termuat,” kata diaLihat Foto
Ilustrasi wayang. Gelaran Mubeng Beteng Malam 1 Suro 2026 di Yogyakarta tampil beda dengan pementasan Wayang Gedhog yang langka dan terbuka untuk umum.
Setelah menyaksikan pementasan wayang gedhog dan mendapatkan bekal refleksi, laku tirakat jelang tahun baru Jawa ini dapat dilengkapi dengan Lampah Mubeng Beteng yang menjadi salah satu lanjutan tahap laku spiritual masyarakat Jawa.
Pada kegiatan tersebut, para peserta menempa diri dengan berjalan dalam kondisi terdiam. Namun, di dalam batin, tak henti ikhlas berdoa dan berserah diri kepada Sang Pencipta.
- Cermo Gupito menyampaikan, wayang gedhog merupakan salah satu jenis pertunjukan wayang kulit yang mengangkat cerita Panji, bukan Mahabarata atau Ramayana seperti wayang purwa.
Wayang gedhog merupakan salah satu koleksi aset langka milik Keraton Yogyakarta, yang sampai saat ini sudah sangat jarang dipentaskan di wilayah Yogyakarta.
Pementasan digelar agar wayang gedhog kembali dikenal dan lestari khususnya di wilayah Yogyakarta, baik di dalam maupun luar Cepuri Keraton Yogyakarta. Adapun Lakon “Jaya Berdangga” mengisahkan upaya penyamaran Raden Panji dalam mencari syarat permintaan istrinya yang sedang mengandung, yaitu “Sari Swara Renggani Jagad”, yang terus dilakukan demi masa depan Kerajaan Jenggala dan Kediri.
Banyak godaan dan rintangan yang datang di Keraton Kediri karena ulah para senopati dari negara seberang, mulai dari menghalangi upaya Raden Panji, hingga memberanikan diri meminang Dewi Sekartaji.
Atas kegigihan Raden Panji dalam upaya penyamarannya, syarat permintaan tersebut dapat terpenuhi bersamaan lahirnya bayi laki-laki yang dikandung Dewi Sekartaji.
- Cermo Gupito menjelaskan, lakon ini dipilih karena bobot dan isi ceritanya cukup kompleks serta erat dengan realitas kehidupan masyarakat Jawa.
Pementasan wayang gedhog terbuka untuk umum
Selain disiarkan langsung secara daring melalui kanal YouTube Kraton Jogja, pementasan wayang gedhog ini juga bisa dihadiri langsung di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Lokasinya dekat Alun-Alun Kidul Yogyakarta (tepat di belakang/utara Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad). Acara terbuka untuk umum dan gratis, tanpa perlu reservasi.
Masyarakat yang ingin menyaksikan langsung hanya perlu hadir dengan berbusana bebas, rapi, dan sopan.
Setelah menyaksikan pementasan wayang, masyarakat juga bisa mengikuti iring-iringan Abdi Dalem dari Kagungan Dalem Kamandungan Kidul menuju Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti, melewati rute gladhi prajurit.
“Harapannya tentu semoga penampilan Wayang gedhong dengan lakon Jaya Berdangga ini bisa menjadi inspirasi kita, jadi jalan kita melaksanakan laku reflektif sebagai bekal mengarungi tahun baru yang lebih baik lagi,” kata MB. Cermo Gupito.
“Karena pementasan wayangnya juga hanya sampai pukul 23.00 jadi masyarakat yang nanti kemudian mau turut bergabung di Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng tentu masih bisa sekali lanjut mengikuti kegiatan tersebut,” tambah dia.
Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng Sebagaimana rutin digelar setiap tahunnya, jelang tahun baru Jawa 1 Sura Be 1960, Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng kembali digelar pada Selasa (16/06) malam.
Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng
Bisa diikuti masyarakat umum
Lihat Foto
Abdi Dalem keraton Yogyakarta bersama masyarakat yogyakarta saat menjalani prosesi Mubeng Beteng Topo Bisu, Jumat (27/6/2025) dini hari. Gelaran Mubeng Beteng Malam 1 Suro 2026 di Yogyakarta tampil beda dengan pementasan Wayang Gedhog yang langka dan terbuka untuk umum.(KOMPAS.COM/WISANG SETO PANGARIBOWO)
Sebagai informasi, Hajad Kawula Dalem merupakan inisiasi dari kawula atau masyarakat, tepatnya oleh Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Secara sosial dan kolektif, kami bersama-sama menjalankan Lampah Budaya Mubeng Beteng ini, menyatukan rasa untuk menjalani refleksi bersama demi menyambut tahun baru yang lebih baik,” kata Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT. Kusumanegara.
“Nah, dalam beberapa tahun terakhir agenda ini kemudian difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta,” lanjut dia.
Adapun Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng diawali dengan pembacaan macapat yang melantunkan kidung pengharapan untuk tahun baru yang lebih baik.
Pembacaan macapat akan dimulai pukul 21.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, sebelum nantinya pada pukul 23.00 WIB akan dilakukan seremonial dan persiapan pemberangkatan peserta Lampah Budaya Mubeng Beteng di lokasi yang sama.
Melihat antusiasme yang tinggi, Kanjeng Kusumanegara menyambut masyarakat yang hendak bergabung dalam agenda tersebut. Namun, peserta diimbau untuk tetap saling menjaga kenyamanan, keheningan, ketertiban, dan kekhidmatan acara.
“Bagi masyarakat umum, bisa bergabung dengan busana yang bebas rapi sopan dan nyaman, ya jadi kami harapkan tidak pakai celana pendek,” kata Kanjeng Kusumanegara.
Upacara membersihkan pusaka milik keraton
Hajad Dalem Jamasan Pusaka dan Rata Jamasan Pusaka, atau sering disebut sebagai Siraman Pusaka, merupakan upacara rutin yang dilaksanakan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat setiap bulan Suro.
Upacara tersebut bertujuan membersihkan dan merawat benda-benda pusaka milik keraton.
Pada tahun Be 1960/2026 ini, Jamasan Pustaka akan digelar selama dua hari pada awal Juli 2026, tepatnya pada Selasa (7/7/2026) dan Rabu (8/7/2026), di dalam dan di luar area Kedhaton.
Pusaka yang dibersihkan di luar Kedhaton adalah Kagungan Dalem Rata (kereta) dan pohon beringin.
Agenda yang digelar selama dua hari ini tertutup untuk umum. Namun, pada prosesi Jamasan Rata hari Selasa (7/7/2026), masyarakat dapat menyaksikan jamasan rata pendherek (kereta pendamping) dari luar Kagungan Dalem Museum Waharata.
Sebab, kereta tersebut akan dibersihkan di halaman timur Wahanarata.
Sementara itu, kereta utama yang dijamas setiap tahunnya yakni kereta tertua milik Kerato Yogyakarta \, Kanjeng Nyai Jimat, akan dibersihkan di area terpisah.
Pada waktu bersamaan, pusaka berwujud pohon beringin (Ficus benjamina) yang terdapat di tengah Alun-Alun Utara, yakni Kiai Dewadaru dan Kiai Jayadaru, juga akan dijamas dengan cara dipangkas sehingga tajuknya berbentuk bundar seperti payung.
Bentuk payung ini melambangkan pengayoman yang diberikan keraton kepada rakyat Yogyakarta.
Usai prosesi jamasan terhadap kedua beringin utama tersebut selesai, pemangkasan dilanjutkan terhadap pohon-pohon beringin lain di sekitar Alun-Alun Utara.
Sarah n/jurn.bkn/d












