• Kontak
  • Tentang Kami
  • Beriklan di Bakin Online
Bakin Online
Advertisement
  • Home
  • serangan rudal di palestina
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum & Ham
  • Pariwisata
  • Sosial Budaya
  • Properti
  • Sekilas Info
  • Staf Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • serangan rudal di palestina
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum & Ham
  • Pariwisata
  • Sosial Budaya
  • Properti
  • Sekilas Info
  • Staf Redaksi
No Result
View All Result
Bakin Online
No Result
View All Result
Home Lain Lain

Trump Amerika, dan Iran

Bakin Pusat by Bakin Pusat
April 23, 2026
in Lain Lain
0
Trump Amerika, dan Iran

Trump Amerika, dan Iran

Jakarta, www.bakinonline.com

Perang Amerika Serikat melawan Iran dinilai memperlihatkan satu kelemahan lama Washington yang terus berulang, yakni gagal memahami cara berpikir, nilai, dan pandangan pihak yang dihadapinya.

Dilansir dari The Economist, kelemahan ini menjadi salah satu masalah berbahaya dalam strategi perang Donald Trump terhadap Iran.

Kebiasaan Presiden AS Sejak Dahulu

Di depan para tentaranya, presiden AS biasanya menggambarkan lawan sebagai musuh berbahaya yang harus segera dihentikan. Dia menegaskan bahwa meski lawannya belum menyerah, militer AS akan terus menyerang titik-titik penting yang dianggap bisa melemahkan mereka. Dia juga sering mengatakan bahwa tentara Amerika punya kemampuan yang tidak dimiliki negara lain.

Presiden itu kemudian menjelaskan bahwa pasukan AS yang bertugas jauh dari negaranya sedang berusaha menata ulang kawasan konflik agar menjadi lebih aman dan stabil. Dia juga meminta para tentaranya bangga karena berasal dari negara yang dianggap kuat dan solid.

Di sisi lain, untuk meyakinkan warga Amerika yang mulai ragu terhadap perang, Pentagon terus menampilkan data hasil operasi militer. Para jenderal AS menjelaskan jumlah bom yang sudah dijatuhkan serta target-target yang telah dihancurkan. Jembatan dan kilang minyak juga ikut diserang karena dianggap membantu musuh tetap bergerak.

Namun, ketika perang yang awalnya diperkirakan akan selesai dengan cepat ternyata berlangsung sampai berminggu-minggu, semua angka itu tidak lagi cukup untuk menutupi kenyataan bahwa Amerika salah menghitung. Tekanan militer yang diberikan ternyata belum berhasil membuat lawannya menyerah.

Menariknya, kisah perang pada bagian awal itu ternyata bukan merujuk pada Donald Trump. Peristiwa tersebut terjadi pada 1999, dan presiden yang dimaksud adalah Bill Clinton.

Saat itu, perencana militer AS memperkirakan hanya perlu tiga hari bagi AS dan NATO untuk mematahkan tekad pemimpin Serbia, Slobodan Milosevic lewat serangan udara.

Tujuannya adalah untuk menghentikan pembersihan etnis terhadap warga Albania di Kosovo, wilayah bekas Yugoslavia. Namun dalam kenyataannya, perang udara itu berlangsung 79 hari sebelum Serbia akhirnya menyerah dengan latar ancaman invasi darat NATO yang dianggap serius.

Dari perbandingan itu, terlihat bahwa kesalahan seperti yang kini dikaitkan dengan Trump sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah AS.

Memang ada sisi yang sangat khas Trump, seperti gemar melontarkan ancaman kasar, bertindak impulsif, dan tidak suka mendengar kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Namun, presiden-presiden AS sebelumnya juga pernah membuat kesalahan serupa.

John F. Kennedy dan Lyndon B. Johnson, misalnya, pernah mengira rakyat Vietnam akan menyambut Amerika sebagai sekutu dalam melawan komunisme. Faktanya, banyak orang Vietnam justru melihat Amerika sebagai penjajah.

Saat AS Gagal Memahami Lawan

Akar masalahnya adalah Amerika terlalu sering meremehkan faktor budaya saat menyusun strategi luar negeri maupun militer.

Di dalam badan intelijen AS sendiri, dalam satu hingga dua dekade terakhir, berkembang pemikiran yang secara khusus menyoroti blind spot atau titik buta kebiasaan tersebut. Perang Kosovo pada 1999 bahkan sering dijadikan contoh.

Salah satu rujukannya adalah makalah berjudul Cultural Topography yang diterbitkan pada 2011 oleh dua mantan pejabat CIA, Jeannie Johnson dan Matthew Berrett.

Makalah itu menjelaskan bahwa perencana AS saat perang Kosovo meremehkan pandangan budaya Serbia soal kehormatan, harga diri, dan kemampuan bertahan dalam tekanan. Akibatnya, AS gagal melihat bahwa Serbia bisa saja merasa menang justru karena mampu tetap berdiri melawan kekuatan militer yang jauh lebih besar, saat dunia mengira mereka akan cepat menyerah.

Kesalahan serupa kemudian terulang di Afghanistan dan Irak. Para pemimpin dan komandan AS suka sekali memandang persoalan di negara lain hanya sebagai target yang harus dihantam atau masalah yang harus segera diselesaikan.

Padahal, situasi di negara lain juga mencakup masalah sosial, politik, dan budaya yang harus dipahami terlebih dahulu. Johnson dan Berrett kemudian mendirikan Centre for Anticipatory Intelligence di Utah State University untuk melatih intelijen AS memetakan karakter budaya dalam membaca ancaman maupun peluang.

Berrett menilai para pembuat kebijakan seharusnya lebih dulu bertanya apakah hasil kebijakan luar negeri yang mereka inginkan menuntut negara lain mengubah sesuatu yang sangat mendasar dalam budaya atau cara pandangnya.

Bila jawabannya iya, maka pertanyaan berikutnya seharusnya jauh lebih realistis, yakni berapa lama perubahan semacam itu bisa dicapai dan sumber daya sebesar apa yang dibutuhkan. Sayangnya, pertanyaan seperti ini terlalu jarang diajukan.

Salah satu penyebabnya adalah karena AS terlalu kuat secara militer, sehingga strategi kerap justru dipikirkan belakangan. Amerika juga terlalu mudah mengingat keberhasilannya mengubah Jerman dan Jepang menjadi sekutu dan menjadi negara demokratis setelah 1945, tetapi lupa bahwa perubahan itu lahir dari perang total dan sampa meluncurkan dua bom atom.

Di Balik Ambisi Trump terhadap Iran

Trump sendiri selama ini sering mengejek para pendahulunya karena mencoba mengubah negara-negara Timur Tengah menjadi demokrasi liberal. Namun dalam praktiknya, pemerintahannya tetap mendorong perubahan mendasar di Iran.

Wakil Presiden J.D. Vance bahkan mengatakan bahwa Trump ingin Iran berperilaku seperti negara normal, yaitu negara yang menempatkan kepentingan ekonomi dan bisnis di atas ideologi. Itu berarti ada dorongan agar Iran bergeser dari nasionalisme Islamis yang selama ini menjadi fondasi utamanya.

Pada akhirnya, cara Trump berperang dinilai mengulang hampir semua kesalahan budaya lama Amerika, hanya tanpa satu unsur yang dulu sering melekat pada Washington, yakni idealisme berlebihan.

Jika dulu banyak negara mengeluhkan presiden-presiden AS yang datang dengan niat baik tetapi tetap salah membaca realitas, maka Trump dinilai telah menghilangkan unsur niat baik itu, tetapi belum tentu memperbaiki kesalahan utamanya.

{sarah m/jurn.bkn/d}

Previous Post

Perang AS-Iran Siaga Pertempuran Baru-BBM

Bakin Pusat

Bakin Pusat

Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ojo Dibanding-bandingke’ IKN dengan SD Inpres...

Ojo Dibanding-bandingke’ IKN dengan SD Inpres

June 9, 2024
Dinasti Giriharja dan Dunia Pedalangan

Dinasti Giriharja dan Dunia Pedalangan

September 10, 2021
reuni angkatan lima “stemba” temanggung, jawa tengah ....

Reuni Angkatan Lima “Stemba” Temanggung, Jawa Tengah

April 17, 2022
https://bakinonline.com/wp-content/uploads/2021/11/gbr-Kavling-blok-Ikip...

Dijual 5 Tanah Kavling di Kota Bandung, Sangat Strategis

November 19, 2021
Kenapa Banyak Orang Memilih Jadi Sopir Ojol? Soal ‘Penjara’ Bernama Jam Kerja

Kenapa Banyak Orang Memilih Jadi Sopir Ojol? Soal ‘Penjara’ Bernama Jam Kerja

0
Menkumham dan Dubes Australia Sepakat Tingkatkan Kerja Sama

Menkumham dan Dubes Australia Sepakat Tingkatkan Kerja Sama

0
Pastikan Sesuai Implementasi, Kemenkumham Tinjau Langsung Ganti Rugi Bentuk Barang (GRBB) di Nusakambangan

Pastikan Sesuai Implementasi, Kemenkumham Tinjau Langsung Ganti Rugi Bentuk Barang (GRBB) di Nusakambangan

0
Dinasti Giriharja dan Dunia Pedalangan

Dinasti Giriharja dan Dunia Pedalangan

0
Trump Amerika, dan Iran

Trump Amerika, dan Iran

April 23, 2026
Perang AS-Iran Siaga Pertempuran Baru-BBM

Perang AS-Iran Siaga Pertempuran Baru-BBM

April 22, 2026
Peringatan Hari R. A. Kartini 21 April 2026 di Apotik Metro

Peringatan Hari R. A. Kartini 21 April 2026 di Apotik Metro

April 22, 2026
Serangan Udara dan Rudal di Palestina

Serangan Udara dan Rudal di Palestina

April 20, 2026

Recent News

Trump Amerika, dan Iran

Trump Amerika, dan Iran

April 23, 2026
Perang AS-Iran Siaga Pertempuran Baru-BBM

Perang AS-Iran Siaga Pertempuran Baru-BBM

April 22, 2026
Peringatan Hari R. A. Kartini 21 April 2026 di Apotik Metro

Peringatan Hari R. A. Kartini 21 April 2026 di Apotik Metro

April 22, 2026
Serangan Udara dan Rudal di Palestina

Serangan Udara dan Rudal di Palestina

April 20, 2026
Bakin Online

Berita Aktual Investigasi Nasional – KANTOR HUKUM MEDIA BAKIN

PT. Bangun Kreasi Indonesia
Jl. Soekarno Hatta no. 636 Bandung – Jawa Barat

Kategori Berita

  • Ekonomi
  • Hukum & Ham
  • Lain Lain
  • Pariwisata
  • Politik
  • Properti
  • Sekilas Info
  • serangan rudal di palestina
  • Sosial Budaya

Recent News

Trump Amerika, dan Iran

Trump Amerika, dan Iran

April 23, 2026
Perang AS-Iran Siaga Pertempuran Baru-BBM

Perang AS-Iran Siaga Pertempuran Baru-BBM

April 22, 2026

© 2021 Bakin Online - Berita Aktual Investigasi Nasional - KANTOR HUKUM MEDIA BAKIN

No Result
View All Result
  • Home
  • serangan rudal di palestina
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum & Ham
  • Pariwisata
  • Sosial Budaya
  • Properti
  • Sekilas Info
  • Staf Redaksi

© 2021 Bakin Online - Berita Aktual Investigasi Nasional - KANTOR HUKUM MEDIA BAKIN