Pendakian Gunung Galunggung Tasikmalaya
(Sudarjono, Pumapala Indonesia)
Tasikmalaya- www.bakinonline.com
Sejarah singkat gunung Galunggung, “Galunggung” berasal dari bahasa Sunda yang merujuk pada bentuk fisik gunung yang agung (besar) dan melengkung, menyerupai tumpeng. Nama itu sudah tercatat sejak abad ke-12 sebagai kawasan suci kabuyutan sebagai pusat Kerajaan Galunggung, yang keberadaannya dikukuhkan melalui Prasasti “Geger Hanjuang” pada 21 Agustus 1111 M.
Gunung Galunggung, terletak di Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Berjarak sekitar 17 km dari pusat Kota Tasikmalaya, gunung api aktif tipe strato ini memiliki ketinggian mencapai 2.240 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan puncak tertingginya, Puncak Beuti Canar.
Gunung Galunggung, pernah mengalami letusan besar pada tanggal 5 April 1982. Erupsi bersejarah tersebut berlangsung cukup panjang hingga awal tahun 1983 dan menyisakan hamparan pasir vulkanik berwaena hitam dan kawah hijau toska yang kini menjadi kawasan wisata.
Sudarjono (Darjono) Pecinta Alam Pumapala Indonesia, bersama kerabat pecinta alam dari Bandung, Cianjur, Jakarta dan Tasikmalaya sebanyak 11 plus 3 personil melakukan trip pendakian gunung Galunggung pada hari Jum’at-Sabtu, tanggal 26-27 Juni 2026.
Pejalannya dimulai dari Kota Bandung pada hari Jum’at sore pukul 15.00 WIB. sampai di Kampung Parakankawung, Kelurahan/Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, pukul 21.00 WIB. untuk istirahat dan bermalam. Kemudian pada pagi harinya sekitar pukul 04.00 WIB. melanjutkan perjalanan menuju lokasi parkir kendaraan di lokasi gunung Papandayan.
Setelah melakukan sholat subuh berjama’ah, pendakian dimulai, ada 3 (tiga) jalur pendakian, lewat tangga terjal berwarna biru dengan 510 anak tangga dan tangga kuning agak landai dengan 620 anak tangga dan jalur jalan setapak yang terjal dan berkelok-kelok, semua jalur penuh tantangan.
Kami memilih start dari basecamp melalui anak tangga biru (510 anak tangga) merupakan jalur yang lurus, terjal dan menantang, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga di bibir kawah Galunggung Papandayan. jalur ini sangat menguras tenaga dan jarang para pendaki melalui jalur ini.
Sesampainya di puncak suasana masih diselimuti kabut dan dingin. untuk mengurangi rasa dingin, selain dengan menggerakan badan juga membuat api unggun sambil membakar jagung, menunggu sang matahari terbit, sunrise.
Tak lama kemudian matahari muncul, sesekali tertutup awan dan muncul kembali. para pendaki menyambut dengan gembira sambil mengabadikan dengan poncell genggam untuk mengambil momen yang ditunggu-tunggu, sunrise.
Selain itu para pendaki dimanjakan dengan pemandangan yang sangat memukau, di sekeliling puncak terlihat panorama danau kawah berwarna hijau muda ketuaan dan juga tanaman gunung di tebing yang hijau dan rimbun dengan udara yang sejuk dan segar, iringan suara kicau burung di alam bebas. Suasana itu sangat cocok untuk melepaskan penat kepala, melupakan hirukpikuk dan kebisingan politik, hukum dan ekonomi yang tidak menentu…?
Setelah melepas lelah dan melakukan perenangan sejenak, kemudian sekitar pukul 10.00 WIB. mulai turun gunung dengan melewati jalur berbeda yakni jalan setapak, menurun dan berkelok-kelok menuju kea rah basecamp tempat start pendakian.
Sesampainya di basecamp, relax sebentar sambil menghilankan cape dan melemaskan badan agar badan pulih kembali. Tak lama kemudian segera bergegas pulang menuju ke Bandung dan rumah masing-masing. Trip pendakian gunung Papandayan selesai.
(jons/jurn.bkn/d)













