JAKARTA/ WWW.BAKINONLINE.COM
Harga berbagai jenis produk plastik di Indonesia dilaporkan melonjak drastis hingga 40%–100% per April 2026. Kenaikan ini terjadi secara bertahap sejak pekan kedua Ramadan dan terus merangkak naik setiap pekan, terutama untuk jenis plastik PE (polyethylene) dan PP (polypropylene).
Penyebab Utama Kenaikan
- Konflik Geopolitik Timur Tengah: Ketegangan antara Iran dan Israel/AS mengganggu jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak mentah sebagai bahan baku utama plastik.
- Kenaikan Harga Naphta: Harga bahan baku plastik (naphta) melonjak dari kisaran USD 600 per ton menjadi USD 900 per ton.
- Gangguan Impor: Pasokan bahan baku impor terhambat, menyebabkan stok plastik di pasar domestik menipis dan harga melambung tinggi.
Dampak di Berbagai Sektor
| Sektor | Dampak Nyata |
| UMKM & Pedagang Kecil | Penjual minuman (es) dan makanan terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi keuntungan karena biaya kemasan primer yang membengkak. |
| Jasa Laundry | Tarif jasa laundry naik rata-rata Rp1.000 per kg karena harga plastik kemasan naik (misalnya dari Rp23.000 menjadi Rp35.000 per kg). |
| Konsumen Rumah Tangga | Warga mulai beralih menggunakan wadah alternatif seperti tas belanja ramah lingkungan atau daun pisang untuk membungkus makanan. |
Upaya Pemerintah
Menteri Perdagangan dan pemerintah daerah tengah memantau situasi ini. Langkah-langkah yang dipertimbangkan meliputi optimalisasi impor bahan baku untuk menekan harga serta mendorong inovasi penggunaan kemasan tradisional (seperti daun pisang) guna mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.
Sarah m/jurn.bkn/d













