Slank, Siapa Dibalik Topeng “Republik Fufufafa”
(Sudarjono, pengamat social budaya)
Bandung – www.bakinonline.com
Heboh, Kritik sosial yang dinyanyikan grup band rock legendaris Indonesia Slank, berjudul “Republik Fufufafa” menggambarkan sistem pemerintahan yang berjalan tidak normal, yang di dalmnya ada rekam jejak bermasalah besar yang disempunyikan. Namun, nampak jelas.
Lagu “Republik Fufufa” merupakan sindiran negara yang kacau balau, stunting, kurang gizi, dan perilaku para pejabat yang tidak semestinya.
Lagu itu diketahui, dirilis saat peringatan 42 tahun Slank dengan menggelar konser amal bertajuk “Hey 42th Slank” untuk membantu korban bencana alam di Sumatra.
Slank mengkritik hutang yang menumpuk terkait proyek Whoosh, selain itu dalam terminologi digital Fufufafa identik dengan jejak digital yang penuh kontroversi dan metirius, yang hingga saat ini masih bersembunyi dibalik kekuasaannya.
Pemerintahan ‘Prabowo Subianto’ seperti tersandra, pasang badan, dan harus membenahi sisa pesta kebijakan ugal-ugalan masa lalu yang tidak sepenuhnya dinikmati.
“Republik Fufufafa” juga memuat pesan tentang kewaspadaan, yang menggambarkan ada musang berbulu domba yang sedang bersiap untuk naik panggung.
Diketahui sebelumnya, Slank adalah salah satu mesin politik Jokowi. sangat popular dengan simbul ‘salam dua jari’.
Sudarjono (Darjono), pengamat sosial budaya menilai, kritik sosial dari Slank itu menggambarkan bayang-bayang politik pencitraan dan manipulasi informasi pemerintah sebelumnya yang selalu menghantuinya.
“Kritik sosial Slank dengan ‘Republik Fufufafa’ sepatutnya membuat ‘orang kuat nomor dua’ dan ‘mantan orang kuat nomor satu’ itu merasa malu dan tau diri. Rakyat sudah muak dengan semua permainannya yang dianggap kotor dan mencederai rakyat,” ucap Darjono.
“Siapa yang bersembunyi dibalik ‘Topeng Republik Fufufafa’ yang sebenarnya..?” tanya Darjono
“Revolusi mental yang disuarakan Slank saat itu, telah banyak melahirkan aparatur yang bermental korup dan tak beretika. Sudah saatnya disuarakan ‘Revolusi ahklak’ agar tercipta aparatur pemerintahan dan lembaga di negera ‘Republik Indonesia’ ini beraklak mulia, beretika dan bermoral,” pungkasnya.
(nanjaya/jurn.bkn/d)

