Temanggung, 28 April 2019- Bakinonline.com

Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah,  terletak di lereng gunung Sumbing dan gunung Sindoro, dengan penghasil utama Tembakau, buah-buahan, palawija. padi dan sayuran disamping perikanan dan peternakan.  Penghasilan dari masyarakat pedesaan kebanyakan mengandalkan dari sektor hasil pertanian dan perkebunan.

Ada yang unik dalam kehidupan masyarakat kabupaten Temanggung. Menjelang bulan suci Ramadhan masyarakat selalu kegiatan bebersih lingkungan, Pemakaman dan tempat tertentu yang disakralkan. Dengan cara kerja bakti besama (Gotong royong).

Acara puncaknya pada hari Minggu terakhir sebelum masuk bulan Ramadhan, melaksanakan kegiatan ziarah ke Pemakaman umum dan tempat yang disakralkan, dari masimng-masing desa mempunyai tatacara yang berbeda. Acara ini disebut dengan Nyadran, di desa lain ada juga dengan menggelar acara seni budaya berupa kuda lumping, wayang kulit dan kesenian tradisi lainnya.

Dari penyelusuran Darjono, Crew Bakinonline.  Ada beberapa daerah di kabupaten Temanggung yang melaksanakan acara Nyadran dengan keunikan tersendiri, antara lain :

Gugur Gunung. Acara ini dilaksanakan di Kampung Kepatihan di Kota Kabupaten temanggung acara Nyadran ini dinamakan dengan sebutan Gugur Gunung. Yaitu membersihkan lingkungan pemakaman umum di daerag Telasri dengan cara bergotong royong dan diakhiri dengan ziarah memanjatkan do’a bersama untuk para leluhur yang telah meninggal dunia,  terutama yang dimakamkan di pemakaman umum tersebut. Kemudian diakhiri dengan makan nasi Gono (Sego Gono) yang telah disiapkan oleh ibu-ibu PKK secara bersama-sama. Sehingga tercipta suasana kekeluargaan, kerukunan dan kedamaian.

Nyadran Pupunden. Digelar oleh masyarakat desa Tlahab,kecamatan Kledung ada dilereng gunung Sindoro, dengan menggelar acara ritual warga berbondong – bondong menuju ke pepunden yang ada plataran situs candi Liyangan sambil membawa tenongan berisi nasi tumpeng. Setelah acara do’a ritual selesai, warga makan bersama di sekitar lokasi ritual.

Nyadran Seribu Ketupat. Digelar di dusun  Gedongan, desa Ngemplak, kecamatan Kandangan. Ritual dimulai dengan mengarak dua gunungan ketupat dan hasil bumi menuju ke lembah Dawuhan. sejauh 1 km dari pemukiman. Sepanjang jalan menuju lokasi warga melantunkan solawat kemudian sesampai dilokasi warga berdo’a sebagai wujud syukur pada Sang Pencipta Alam sebagai wujud kecintaan  pada alam dan sumber air.

Nyadran Pasarean Kyai Demang. Digelar di dusun Demangan, desa Candimulyo, kecamatan Kedu. Masyarakat berbondong – bondong menuju makam Ki Demang dengan membawa tenong berisi aneka lauk pauk, makanan dan nasi tumpeng.  Menurut ceritanya makanan yang dibawa tidak boleh dicicipi sebelum ritual selesai, bila pantangan itu dilanggar maka akan datang musibah. Setelah Do’a  ritual  selesai tenong berisi makanan dibagi dan dimakan bersama dengan memakai nyiru (tampah).

 

Nyadran Tumpeng Agung. Digelar oleh masyarakat  dusun Tanggulangin, desa Tanggulanom, kecamatan Selopampang. Tumpeng agung tersebut diarak keliling kampung kemudian tumpeng dido’akan oleh pemuka agama, kemudiaan gsung menjadi rebutan seluruh warga yang hadir. Selanjutnta warga berbondong- bondong menuju ke makam Eyang kyai dan Nyai Tanggul yang dipercaya menjadi pepunden desa, dengan membawa tenongan berisi aneka jajanan pasar, buah- buahan, nasi dan ingkung ayam. Untuk melaksanakan do’a di makam pepunden  bertujuan membersihkan hari jelang ramadhan, sebagai sujud syukur atas berkah yang telah diberikan dari Sang Pencipta Alam kepada masyarakat serta untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan warga.

Nyadran Desa Ngropos. Oleh masyarakat di kecamatan Kranggan, acara ini digelar setiap bulan Sapar hari Jumat Wage, warga berbondong- bondong menuju pemakaman di bukit yang terletak di dusun Dukuh dengan membawa tenong berisi nasi tumpeng, ingkung ayam dan jajanan pasar. Sesampai di makam tenong ditaruh didepan untuk kemudian dilaksanakan ritual do’a yang diikuti warga masyarakat sekitar desa Ngropos. Setelah selesai makanan dalam tenong ditukar dengan warga lain untuk dimakan bersama dan malam harinya digelar pertunjukan wayang kulit dan kuda lumping.

 

Nyadran Pringapus. Digelar oleh masyarakat desa Pringapus, kecamatan Ngadirejo, sebelum ritual Nyadranan dimulai masyarakat membersihkan pepunden makam desa serta membaca tahlil untuk arwah para leluhur.  Selanjutnya berbondong -berbondong ke komplek candi Pringapus yang notabene peninggalan budaya dan agama Hindu sambil membawa tenong berisi nasi golong gilig, ingkung ayam, telur ayam kampung dan lainnya . Sesampai di komplek candi Pringapus kemudian digelar pengajian, ceramah agama. Setelah selesai ritual do’a, tenong yang berisi ingkung, jajanan pasar dan buah- buahan disantap bersama. Nyadran yang digelar setiap tahun di pelataran candi Pringapus telah lama dilakukan secara turun temurun.

Nyadran 1000 Ketupat. Nyadraran ini juga digelar oleh masyarakat  desa Ngemplak pasca panen. Beberapa hari sebelum  ritual Nyadran  Ketupat, warga membersihkan saluran air sepanjang 1,5 km, juga menanam pohon di sekitar mata air untuk kelestarian. Ketika acara Nyadran Ketupat dimulai masyarakat desa Mgemplak setiap keluarga membawa sejumlah ketupat dikumpulkan dilokasi acara Nyadran dengan berjalan kaki sekitar 1 KM menuju lokasi disekitar sumber air di kawasan lembah Dawuhan. Setelah ketupat terkumpul ritual do’a dimulai kemudian ketupat dimakan bersama – sama, sebagianada yang dibawa pulang dan ritual ini bertujuan mengenang jasa Kyai dan Nyai Lenging yang telah membuat saluran air untuk lahan pertanian .

Nyadran Kawelasan. Digelar oleh masyarakat dusun Lamuk, desa Tlohomulya ,Acara dimulai dengan mengarak gunungan dan aneka sesaji keliling dusun Lamuk menuju mata air yang jadi sumber penghidupan warga yang umumnya berprofesi sebagai petani. Selesai acara ritual do’a seluruh isi gunungan dan aneka sesaji dibawa keluar untuk diperebutkan warga. Ritual Nyagran Kawelasan ini digelar agar selalu mendapatkan limpahan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa, sebagai ungkapan rasa syukur ,mempererat persaudaraan dan tradisi ini telah lama dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat dusun Lamuk.

Nyadran Depok (Nyadran Lintas Agama). digelar masyarakat dusun Depok, desa Tlogowungu, kecamatan Kaloran. Ritual  Nyadran ini tidak hanya dilakukan oleh kaum muslim, akan tetapi umat Budha dan umat lainnya juga ikut melestarikan tradisi ini. Nyadran Depok ini diikuti warga dengan berbagai latar belakang agama  dan dijalankan bersama dengan penuh kerukunan tanpa ada gesekan sosial dan tetap hidup rukun.

Nyadran Gunung Beser. Digelar masyarakat desa Jomo, kecamatan Jumo, di gunung Beser adalah tempat yang disakralkan. Malam sebelum pelaksanaan tradisi, digelar do’a bersama kemudian pagi harinya dilakukan arak – arakan dengan membawa 3 gunungan  berisi nasi bucu, ingkung ayam dan hasil bumi,  berjalan kaki menelusuri jalan setapak yang terjal sejauh kurang lebih 2 km menuju gunung Beser dengan berpakaian adat jawa, sesampainya dilakukan ritual do’a dipimpin oleh juru kunci, kemudian gunungan yang berisi hasil bumi  diperebutkan, sedangkan nasi bucu dan ayam ingkung disantap bersama-sama.

Acara tradisi menjelang datangnya bulan suci Ramadhan atau di kenal dengan Nyadran, banyak dilakukan di desa/ Kecamatan lain di kabupaten Temanggung, dengan cara dan tradisi yang berbeda tapi dengan tujuan yang sama yaitu untuk mensyucikan diri sebagai sujud syukur atas rahmat, rejeki dan kesehatan yang diberikan dari Sang Pencipta Alam (Allah SWT) yang telah diberikan khususnya kepada warga dan masyarakat kabupaten Temanggung pada umumya.  # Darjono- Bakin