Suku Sakai merupakan suku asli di Riau, mereka hidup berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang laim. Sakai adalah Melayu Tua, sebelum tertumpuk oleh budaya melayu baru , suku sakai adalah suku terlama yang bertahan di Daerah Riau yang sejak dulu merupakan belantara serta sebagian gurun. Suku Sakai, diketahui memiliki tatanan keluarga besar atau  hidup berkelompok dengan seorang Bathin (sebutan Pemuka atau pimpinan kerohanian). Sakai atau keturunan melayu tua itu kini sudah melebur kepada tatanan kehidupan modern yang lebih didominasi oleh masyarakat melayu baru. Meskipun demikian, Suku Sakai memiliki peranan penting dalam pemekaran budaya manusia dibelahan Sumatera khususnya yang berdekatan dengan Negara Malaysia. Konon Suku Sakai merupakan cikal bakal bangsa melayu lainnya seperti Malaysia. Budaya mereka merupakan budaya awal dari masyarakat melayu.

Ada beberapa literature mengenai asal usul Suku Sakai ini, diantaranya;

  • Sakai merupakan percampuran antara orang-orang Wedoid dengan orang-orang Melayu Tua. Catatan sejarah mengatakan bahwa pada zaman dahulu penduduk asli yang menghuni Nusantara adalah orang-orang Wedoid dan Austroloid, kelompok ras yang memiliki postur tubuh kekar dan berkulit hitam. Mereka bertahan hidup dengan berburu dan berpindah-pindah tempat. Sampai suatu masa, kira-kira 2.500-1.500 tahun sebelum Masehi, datanglah kelompok ras baru yang disebut dengan orang-orang Melayu Tua atau Proto-Melayu. Gelombang migrasi pertama ini kemudian disusul dengan gelombang migrasi yang kedua, yang terjadi sekitar 400-300 tahun sebelum Masehi. Kelompok ini lazim disebut sebagai orang-orang Melayu Muda atau Deutro-Melayu. Akibat penguasaan teknologi bertahan hidup yang lebih baik, orang-orang Melayu Muda ini berhasil mendesak kelompok Melayu Tua untuk menyingkir ke wilayah pedalaman. Di pedalaman, orang-orang Melayu Tua yang tersisih ini kemudian bertemu dengan orang-orang dari ras Wedoid dan Austroloid. Hasil percampuran antara keduanya inilah yang kemudian melahirkan nenek moyang orang-orang Sakai.
  • Orang Sakai berasal dari Pagaruyung dan Batusangkar. Menurut versi cerita ini, orang-orang Sakai dulunya adalah penduduk Negeri Pagaruyung yang melakukan migrasi ke kawasan rimba belantara di sebelah timur negeri tersebut. Waktu itu Negeri Pagarruyung sangat padat penduduknya. Untuk mengurangi kepadatan penduduk tersebut, sang raja yang berkuasa kemudian mengutus sekitar 190 orang kepercayaannya untuk menjajaki kemungkinan kawasan hutan di sebelah timur Pagarruyung itu sebagai tempat pemukiman baru. Setelah menyisir kawasan hutan, rombongan tersebut akhirnya sampai di tepi Sungai Mandau. Karena Sungai Mandau dianggap dapat menjadi sumber kehidupan di wilayah tersebut, maka mereka menyimpulkan bahwa kawasan sekitar sungai itu layak dijadikan sebagai pemukiman baru. Keturunan mereka inilah yang kemudian disebut sebagai orang-orang Sakai.

Sebutan Suku Sakai yang primitif,menyendiri, anak negri yang hidup di sekitar sungai dan mencari penghidupan dari hasil kekayaan yang ada di sungai berupa ikan, kini mulai diprotes oleh masyarakat suku Sakai yang sudah maju, karena hal tersebut berkonotasi pada hal yang tidak kuno dan bodoh, serta tidak mengikuti kemajuan jaman. Sedangkan kenyataannya kini, masyarakat Sakai sudah tidak lagi banyak yang masih melakukan tradisi hidup nomadennya, karena wilayah hutan yang semakin sempit di daerah Riau. Kini anak-anak Sakai sudah banyak yang mengenyam pendidikan hingga Sarjana, bahkan Putra asli suku sakai Iwan Sakai dari  Duri Kabupaten Bengkalis, merupakan mahasiswa UIR yang giat menyuarakan Keadilan  bagi Masyarakat Riau khususnya Keturunan asli suku Sakai.

iwan sakaiIwan Saputra Sakai.

Salah satu ciri masyarakat Sakai yang juga melahirkan penilaian negatif dari orang Melayu adalah agama mereka yang bersifat animistik. Meskipun banyak di antara orang Sakai yang telah memeluk Islam, namun mereka tetap memraktekkan agama nenek moyang mereka yang masih diselimuti unsur-unsur animisme, kekuatan magis, dan tentang mahkuk halus. Inti dari agama nenek moyang masyarakat Sakai adalah kepercayaan terhadap keberadaan ‘antu‘, atau mahluk gaib yang ada di sekitar mereka. Masyarakat Sakai menganggap bahwa antu juga memiliki kehidupan layaknya manusia. Mereka bergerombol dan memiliki kawasan pemukiman. Pusat dari pemukiman antu ini menurut orang Sakai berada di tengah-tengah rimba belantara yang belum pernah dijamah manusia.

 

Suku Sakai diduga sebagai suku asli Indonesia yang menjadi nenek moyang dari beberapa suku Melayu lainnya. Kemiripan dari cara mereka berbudaya bahkan sangat mirip masyarakat dayak di Kalimantan. Suku Sakai juga memiliki sejumlah kemiripan lainnya dari sisi pakaian yang dikenakannya. Kendati demikian , suku Sakai adalah salah satu suku yang sangat mencintai perdamaian hingga mereka sangat mudah sekali untuk melebur dengan suku bangsa lainnya.

 

Perkembangan budaya suku Sakai dewasa sudah jauh meninggalkan keprimitifan, sangkaan itu sudah jauh tertepis manakala anak cucu mereka sudah banyak yang memperoleh tambahan keilmuan baik ilmu agama atau lainnya. Dewasa ini masyarakat suku Sakai banyak yang menganut agama Islam dan banyak mendirikan Mesjid di pemukiman mereka. Pemerintah Daerah telah menjadikan budaya Sakai ini sebagai Asset Budaya Bangsa

 

“ Sudah sewajarnya bila Suku Sakai turut berperan aktif dalam pembangunan Negara, karena suku Sakai merupakan Asset Bangsa dan mereka adalah pionir dalam pemetaan cikal bakal masyarakat Melayu Khususnya masyarakat Riau,” Tutur Mahasiswa UIR semester IV ini kepada BAKIN Jum’at lalu di kota Dumai. “ Kami inginkan kesetaraan dalam segala bidang antara suku Sakai dengan saudara-saudara dari suku lain khususnya yang berdomisili di tanah kami, Riau ini, “ lanjut pemilik nama lengkap Iwan Saputra Sakai ini, seraya menyuguhkan makanan khas suku Sakai yang dinamai MANGGALO,” Iwan juga mengharapkan nanti pada pilgub yang akan datang, anak Sakai bisa menjadi salah satu Calonnya. (tgh-red)