kepemudaan
bakinonline.com

Bandung – bakinonline.com

Lingkungan hidup merupakan hal penting dalam kelangsungan hidup manusia, untuk itu patut mendapat perhatian yang lebih disaming aspek lainnya. Lingkungan yang baik dan sehat tentu akan memberi dampak yang positif untuk kehidupan manusia, oleh karenanya wajar jika ada banyak gerakan yang mendorong perbaikan terhadap lingkungan. Diantaranya membiasakan untuk mengurangi limbah plastic, gerakan menanam pohon, menjaga hutan, tidak membuang sambah disembarang tempat dan menjaga kelestarian alam semerta.

Sebagai bukti perhatian terhadap lingkungan, maka pada setiap tanggal 5 Juni dikenang sebagai Hari Lingkungan Hidup. Tak ubahnya seperti hari besar lainnya yang memiliki sejarah panjang hingga pada akhirnya diperingati secara rutin, demikian juga Hari Lingkungan Hidup mempunyai sejarah yang panjang. Dalam kesempatan ini Sudarjono (Darjono) Pimpinan Media Bakin dan Bakinonline (Pimred) yang juga sebagai penggagas Perhimpunan Pecinta Alam – Putra Makukuhan Pecinta Alam (PPA-PUMAPALA) Stenbatema, yang sekarang menjadi PUPALALA INDONESIA, mencoba mengangkat kembali tentang Hari Lingkungan Hidup yang dirayakan atau diperingati pada setiap tanggal 5 Juni.

Sesuai dengan namanya, Hari Lingkungan Hidup yang dirayakan secara global berkaitan dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Artinya awal mula lahirnya hari besar dunia ini tentu juga dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan pada saat itu yang dipandang sangat memprihatinkan.

Perayaan Hari Lingkungan Hidup ini pertama kali dirayakan pada tanggal 5 Juni 1974. Kondisi lingkungan pada saat itu memang sangat memprihatinkan dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan yang tidak saja berpusat pada daerah yang memiliki masalah lingkungan, melainkan nyaris seluruh dunia merasakan hal yang sama. Salah satu masalah lingkungan yang merebak saat itu adalah adanya wabah penyakit Minamata yang menyerang negara Jepang. Minamata yaitu merupakan sindrom yang merusak pada fungsi saraf.

Ditambah di  sejumlah wilayah Eropa terjadi kabut asap yang berdampak buruk terhadap kesehatan manusia, asap tersebut diperkirakan merupakan dampak yang ditimbulkan adanya pembakaran hutan di berbagai wilayah untuk pembangunan pada kisaran tahun 1960. Meski dampaknya tidak serta merta, tetapi akibat yang ditimbulkan benar-benar sangat mempengaruhi kondisi kesahatan masyarakat.

Sehingga pada tahun 1972, Persatuan Bangsa-Bangsa (Sejarah Berdirinya PBB) melaksanakan konferensi terkait dengan Lingkungan Hidup yang pertama kali. Konferensi tersebut digelar di Stockholm, Swedia, pada tanggal 5 – 16 Juni tahun 1972. Adapun negara yang menjadi pengusul pertama diadakannya Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah Jepang yang mengalami wabah Minamata dan negara Senegal.

Akhirnya setelah melakukan perbincangan panjang, konferensi PBB tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan, terkait kondisi lingkungan saat itu. Menurut Emil Salim, Menteri Penertiban Aparatur Negara, sebagai pemimpin delegasi Indonesia serta para anggota konferensi tersebut menghasilkan kesepakatan sebagai berikut :

“(a) Deklarasi Stockholm, yang mengandung berbagai prinsip harus digunakan dalam mengelola lingkungan hidup di masa depan melalui penerapan lingkungan internasional. (b) Rencana Aksi, mencakup perencanaan alam yang berkaitan dengan pemukiman, pengelolaan sumber daya alam, pengendalian pencemaran lingkungan, pendidikan serta informasi mengenai lingkungan hidup. (c) Segi Kelembagaan, pembentukan United Nations Environment Program (UNEP) sebagai badan PBB yang menangani program lingkungan dan memiliki pusat di Nairobi, Kenya, Afrika. Badan ini berfungsi mengkoordinir kebijaka terhadap alam serta menggalakkan suistanable untuk dunia.” dilansir dari laman nasional (kompas.com).

Adapun prinsip-prinsip yang terkandung dalam Deklarasi Stockholm berisi 26 poin dengan rincian sebagai berikut :

  1. Sejarah HAM di Dunia harus ditegaskan, segala bentuk apharteid dan penjajahan dihapuskan;

  2. Sum daya alam harus dijaga;

  3. Kapasitas bumi untuk menghasilkan sumber daya harus dipertahankan;

  4. Satwa liar harus dilindungi;

  5. Sumber yang tidak bisa diperbaharui harus dibagikan dan tidak dihabiskan;

  6. Polusi tidak boleh melebihi kapasitas lingkungan dalam membersihkan dirinya sendiri;

  7. Pencemaran lautan yang merusak harus dicegah;

  8. Dibutuhkan pengembangan untuk memperbaiki lingkungan;

  9. Negara-negara berkembang membutuhkan bantuan;

  10. Negara-negara berkembang membutuhkan harga wajar untuk mengekspor demi melaksanakan manajamen lingkungan;

  11. Kebijakan lingkungan tidak boleh menghambat pembangunan;

  12. Negara-negara berkembang membutuhkan dana untuk mengembangkan perlindungan terhadap lingkungan;

  13. Doperlukan perencanaan pembangunan secara terpadu;

  14. Perencanaan yang rasional harus bisa menyelesaikan konflik antara lingkungan dan pembangunan;

  15. Pemukiman manusia harus direncanakan untuk menghilangkan masalah lingkungan;

  16. Pemerintah harus merencanakan kebijakan kependudukan sendiri yang sesuai;

  17. Lembaga nasional harus merencanakan pengembangan sumber daya alam Negara;

  18. Sains dan teknologi harus digunakan untuk memperbaiki lingkungan;

  19. Pendidikan lingkungan sangat penting;

  20. Penelitian lingkungan harus dipromosikan, khususnya di negara-negara berkembang;

  21. Negara dapat mengekploitasi sumber daya mereka sesuai yang mereka inginkan, tetapi tidak membahayakan orang lain;

  22. Kompensasi ada karena keadaan yang terancam punah;

  23. Setiap negara harus menetapkan standarnya sendiri;

  24. Harus ada kerjasama dalam masalah internasional;

  25. Organisasi internasional harus membantu untuk memperbaiki lingkungan;

  26. Senjata pemusnah massal harus dihilangkan.

“Diharapkan dengan ditetapkannya tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup, agar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat global mengenai kondisi lingkungan sekitarnya. Sehingga didalam melaksanakan pembangunan perlu memperhatikan rambu-rambu yang  terkandung didalam butir-butir Deklarasi Stockholm yang sudah menjadi kesepakatan bersama antar Negara, termasuk Indonesia. Sehingga tidak ada lagi pembangunan yang menimbulkan dampak negative, terutama terkait dengan kerusakan lingkungan hidup baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, dan tidak ada lagi bencana alam yang ditimbulkan karena adanya pembangunan daerah yang menyalahi aturan, baik skala besar maupun kecil,” ungkap Darjono.

“Diduga terjangkitnya wabah virus Corona (Covid-19)  saat ini, yang dihampir seluruh Negara (secara global), ada kemungkinan tatanan lingkungan yang tidak pas disuatu negara. sehingga dengan adanya kemajuan teknologi transpotasi yang sangat canggih antar negara, yang dapat memungkinkan membawa virus Corona dengan cepat dan menyebar diseluruh dunia termasuk di Indonesia, atau ada faktor lain yang belum dapat terungkap sebagai penyebabnya,” Darjono menambahkan.

(red.bakin)