JAKARTA, 11 Agustus 2018 – Bakinonline.com

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan rapat membahas kelanjutan status Rais Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin, setelah terpilih menjadi cawapres Joko Widodo (Jokowi).

“PBNU sedang mempersiapkan rapat gabungan syuriyah dan tanfidziyah. Selain membahas hal-hal rutin terkait keorganisasian dan berbagai perkembangan aktual, juga akan membicarakan status Ma’ruf , kata ketua pengurus harian Tanfidziyah PBNU KH. Robikin Emhas, menyampaikan kepada awak media, Sabtu (11/8/2018).

Terkait posisi Ma’ruf Amin, menurut Robikin, akan mengacu kepada ketentuan Pasal 51 ayat (6) Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama (NU).

Pasal tersebut berbunyi, “apabila Rais Aam, Wakil Rais Aam, Ketua Umum, dan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar mencalonkan diri atau dicalonkan, maka yang bersangkutan harus mengundurkan diri atau diberhentikan.”

Hanya saja, Robikin belum bisa menyebutkan nama sosok pengganti Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam. ” Kata dia.

Ma’ruf Amin saat ini menjabat sebagai Rais Aam PBNU periode 2015-2020 setelah terpilih di Muktamar Jombang melalui mekanisme musyawarah ahlul halli wal aqdhi.

Kandidat Rais Aam waktu itu masih diisi oleh 25 kiai NU. Di antaranya, KH Maimoen Zubair dan KH Musthofa Bisri atau Gus Mus. Namun, setelah musyawarah selama tiga hari, akhirnya mereka memutuskan bersepakat untuk memilih Maruf Amin.

Pada hari Jum’at (10/8/2018) pagi, Jokowi dan Maruf bersama dengan partai pengusungnya,  PDIP, PKB, PPP, Nasdem, Hanura, dan Golkar telah mendaftar  ke kantor KPU.  Sebagai pasangan Capres dan cawapres untuk maju ke Pilpres 2019.  (Redaksi Bakin)