Bandung, 2 April 2019 – bakinonline.com

Dari kererangan Asep Hamdani seorang guru SMA di kabupaten Garut di kantor Redaksi Bakinonline, ia berkeluh kesah dan menceritakan atas musibah yang menimpanya, pasalnya ia termakan bujuk rayu dan iming-iming oleh seorang yang bernama Rizal, yaitu orang yang bekerja sebagai seles (pencari nasabah) dari PT. RIFAN Financesindo Berjangka, yang beralamat di Gedung Bumi Putra Lantai 3, Jalan Asia Afrika No. 141 – 149 Kota Bandung – Jawa Barat.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kronologi :

Kata Asep, Gama membujuk saya agar ikut bisnis investasi emas “Bapak ga usah takut uang hilang. Uang dijamin aman karena perusahaan kami dijamin oleh Otoritas Jaminan Keuangan (OJK), bapak tinggal diam saja dan uang yang dipakai hanya Rp10.000.000,-, sedangkan yang Rp 90.000.000,- akan disimpan terpisah.” Asep menirukan Gama.

“Saya sempat mengurungkan niatnya karena saya tidak punya uang sebesar itu, gaji saya ga cukup dan saya ga punya tabungan,” Asep mencoba untuk menolak.

Kemudian Gama berusaha memberikan solusi, yaitu agar Asep meminjam uang di bank, dengan menjaminkan SK guru. Awalnya Asep ragu dan sempat membatalkan niatnya, Karena setiap saat di telpon agar segera menyetorkan uang Rp100.000.000,- akhirnya Asep terbujuk dan menuruti perintah Gama untuk meminjam uang di bank BJB kemudian uang tersebut disuruh segera ditranferkan ke rekening atas nama PT. Rifan tersebut.

Gama mencoba lagi untuk meyakinkan Asep, “uang itu akan segera kami belanjakan emas, kebetulan saat ini harga emas dunia lagi murah dan nanti akan dijual kembali selagi harga emas naik.” Asep menirukan perkataan Gema.

Gama menjanjikan, “modal yang telah disertorkan bisa diambil kapan saja sampai 100% (uang akan utuh).” Kata Gema dari penjelasan Asep.

Setelah berhasil membujuk Asep, selanjutnya Gama mengajak kepada teman-teman Asep lain yang seprofesi sebagai guru pengajar di Garut. Gama berhasil membujuk dengan iming-iming keuntungan besar kepada Agus Yusup, Muhidin, Imam dan Isa Sopendi dan masing-masing telah menyetor uang senilai Rp 100.000.000,-.

Dalam keterangannya, mereka masing – masing telah menyetorkan uang sebesar :

  1. Agus Yusup Rp 100.000.000,-  (sisa uang Rp  28.960,000,-)

  2. Muhidin Nawawi Rp 100.000.000,- (sisa uang Rp  54.945.000,-)

  3. Isa Supendi Rp  120.000.000,- (sisa uang Rp 10.970.000,-)

  4. Imam Abdul Hakim  Rp 100.000.000,-  (sisa uang Rp  0.-|

  5. AsepHamdani  Rp 150.000.000,-  (sisa uang Rp 50.185.000,-)

Keterangan uang saldo tersebut pada tanggal 11 Januari 2019. Pihak PT. Rifan menyampaikan kepada para korbannya bahwa uang saldo masing-masing sudah menipis, kalau ga ditambah (di Top Up) uang bisa habis. Bahkan punya Imam diketahui saldonya “nol” (kosong).

Kemudian pada tanggal 21 Maret 2019, diketahui uang saldo para korban makin berkurang bahkan nyaris habis. Yaitu  :

  1. Uang saldo atas nama Asep   – tersisa   Rp       900,000,-

  2. Atas nama Isa Supandi          – tersisa   Rp       600,000,-

  3. Atas nama Agus                      – tersisa    Rp     20.000.000,-

  4. Atas nama Muhidin                 – tersisa    Rp       5.000,000,-

  5. Atas nam Abdul Hakim           –  tersisa    Rp.          0

Mereka pada ga tahu kenapa uangnya berkurang bahkan ada yang habis, sedangkan mereka tidak pernah melakukan kegiatan transaksi apapun, tahunya hanya menyimpan uang untuk mendapatkan keuntungan setiap bulannya dan apabila sewaktu-waktu uang mau diambil bisa, seperti apa yang telah dijanjikan oleh Gama sebagai pihak PT. Rifan. Tapi kenyataannya uang modalnya raip.

Dengan kejadian ini mereka (para korban), saat ini menanggung beban berat. Uang gaji sebagi guru pengajar setiap bulan habis untuk membayar angsuran bank, selama 10 hingga 15 tahun, bahkan ada yang harus mengansur sampai yang bersangkutan pensiun.

Nasib serupa juga menimpa 2 orang ibu, yaitu ibu yayuk dari Cimahi sebesar Rp 330.000.000,- dan ibu iis dari Cileunyi sebesar Rp 300.000.000,-

Diduga korban lain dari berbagai daerah selain dari Jawa Barat masih banyak lagi, tapi mereka tidak tahu harus burbuat apa. ?

Media Bakinonline meminta, “Kepada Kepolisian, Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) dan Dinas terkait agar meninjau dan/atau mencegah bisnis investasi emas yang nyata-nyata telah banyak merugikan dan meresahlan masyarakat untuk ditindak dan/atau segera ditutup, hal ini untuk menghindari Jatuhnya korban-korban berikutnya.”   #  Redaksi – Bakinonline