Raja Kraton Agung Sejagat, "Tidak benar kami melakukan penipuan"

Purworejo – bakinonline.com

Mengapa sebagian masyarakat Indonesia tertarik dan kemudian bergabung dengan apa yang disebut Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jateng, walaupun klaim mereka secara keilmuan dipertanyakan?

Toto Santosa, pemimpin Keraton Agung Sejagat, bersama istrinya, Fanni Aminadia, mulai dikenal luas setelah menggelar acara Wilujengan dan Kirab Budaya, Jumat (10/01/2020), di Desa Pogung Juru Tengah, Kabupaten Purworejo, Jateng.

Mereka mengklaim sebagai raja dan ratu yang memiliki banyak pengikut dan mendirikan sejumlah bangunan di desa Pogung Juru Tengah.

Setelah diliput oleh beberapa media secara meluas dan memunculkan kontroversi di tengah masyarakat.

Polda Jateng kemudian menahan Toto dan istrinya, Selasa (14/01/2020), dan tidak lama kemudian menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan penipuan dan kebohongan.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (keempat kiri) menjelaskan tentang kasus Keraton Agung Sejagat di Purworejo dengan dua tersangkanya, Totok Santosa dan Fanni Aminadia (ketiga kiri), Rabu (15/1/2020).

Keduanya disangka menarik dana dari masyarakat dengan menggunakan tipu daya melalui simbol-simbol kerajaan dengan harapan kehidupan akan berubah. Dilaporkan Toto mengklaim sebagai raja penerus kerajaan Majapahit.

Sepekan kemudian, Selasa (21/01/2020), Toto-Fanni membuka suara dan meminta maaf melalui media, serta mengaku keraton yang didirikannya fiktif.

“Saya mohon maaf dimana Keraton Agung Sejagat itu fiktif. Yang kedua, janji kepada pengikut saya juga fiktif,” kata Toto di hadapan pers.

Walaupun demikian, Toto mengatakan dia tidak melakukan penipuan, seperti disangkakan oleh polisi.

“Tidak benar kami melakukan penipuan,” kata Toto tanpa mau menjelaskan secara rinci, dengan alasan kasusnya masih dalam proses penyidikan.

Masyarakat mendatangi lokasi di Desa Pogung Juru Tengah, Kabupaten Purworejo, Jateng, yang disiapkan sebagai Keraton Agung Sejagat, Senin (20/01/2020).

Walaupun Toto akhirnya mengaku kerajaannya fiktif belaka, namun muncul pertanyaan tentang apa yang disebut sebagai ‘kemampuannya’ dalam menghimpun anggota, yang menurut polisi mencapai 500 orang,

Peneliti tentang kemunculan kerajaan-kerajaan ‘baru’ di Indonesia, yang juga staf pengajar di Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dardias Kurniadi, menyebut sosok Toto memiliki kemampuan “masuk ke dalam struktur keyakinan masyarakat sehingga mampu mendapat pengikut dan percaya apa yang dikatakannya”.

Bayu mengamati sebagian besar pengikut Toto berasal dari kalangan menengah ke bawah secara ekonomi, dengan latar pendidikan “kurang memadai”, serta sebagian besar berusia tua.

“Pada kondisi masyarakat seperti itu, secara psikologis ketika ada seseorang yang menawarkan ‘hey, Anda itu penyelamat dunia loh’, mereka akan tergerak,” kata Bayu kepada wartawan di Yogyakarta,

Kerangka bangunan yang dilaporkan akan dibangun semacam pendopo Keraton Sejagat di Desa Pogung Juru Tengah, Kabupaten Purworejo, Jateng.

“Mereka lalu berpikir, bahwa hidup mereka tidak muspro, ada sesuatu yang mereka bisa sumbangkan untuk dunia ini, lewat sosok Toto,” jelasnya.

Dia memperkirakan, Toto mampu masuk dalam ruang psikologis di mana orang-orang marginal itu merasa dibutuhkan.

“Dan orang diberi eksistensi yang sebenarnya itu semu,” papar Bayu.

“Tetapi orang tidak tahu kalau eksistensi itu semu.”

“Mereka butuh untuk diakui, dan Toto menawarkan itu, sehingga ajakannya disambut dengan suka cita. Bahwa itu tidak gratis, iya, tapi dugaan saya, mereka bergabung bukan hanya iming-iming gaji,” jelas Bayu lebih lanjut.

# Darj- Bkn.