Bandung – Bakinonline.com

Seiring dengan laju perkembangan technologi modern yang banyak ditopang dengan menggunakan sumber energi penggerak permesinan (machining), baik untuk sarana industry, sarana transpotasi serta , alat-alat listrik, komponen hidrolik dan peralatan sumur pengeboran minyak dan gas, .  Maka perlu adanya pembuatan suku cadang (Spare part) untuk pengganti komponen permesinan yang telah aus (rusak) atau bagian lain yang harus diganti.

Proses pembuatan sebuah komponen (spare part) bisa dikerjakan dengan beberapa cara misalnya proses permesinan (machining), pengecoran logam (casting), pengelasan (welding) atau bisa juga dengan teknik Powder Metalurgy. Pilihan proses satu sama lain tentu memiliki pertimbangan keuntungan dan kerugian masing – masing. Tergantung pada bentuk dan tuntutan teknis terhadap produk komponen yang akan dibuat (dimanufaktur). Technologi terbaru yang disebut dengan powder metalurgy ini belum banyak dilakukan oleh industri manufaktur di Indonesia.

Untuk mengetahui masalah powder metallurgy.

Darjono, Crew Media Bakinonline, melalui pesan singkatnya berhasil menghubungi salah satu  Alumni Teknik Pengecoran Logam (Foundry Engineering) Politeknik Manufaktur Bandung (dulu Politeknik Mekanik Swiss – ITB), Dede Farhan Aulawi, untuk memberikan penjelasan terkait dengan bahan pembuatan komponen/suku cadang permesinan. Sabu (15/6/2019)

Dede dalam penjelasannya. “Bahwa definisi dari Metalurgi Serbuk (Powder Metalurgy/PM) adalah proses untuk membentuk suatu komponen/ spare part yang terbuat dari logam dengan memanaskan bubuk logam yang dipadatkan hingga tepat di bawah titik leburnya. Teknologi ini terus berkembang dengan cepat. Metode ini merupakan metode yang sangat maju dalam pembuatan bagian komponen ferro dan non ferro. Dilihat dari perspektif bisnis nilainya sangat besar, misalnya pasar Eropa memiliki omset tahunan lebih dari Enam Miliar Euro, dengan produksi bubuk logam tahunan melebihi satu juta ton. Sebuah nilai omset yang cukup fantastik.” Ujar Dede.

Dia menambahkan,  “bahwa teknik pembuatan PM dilakukan dengan cara mencampur bubuk unsur atau paduan dan memadatkan campuran dalam cetakan, bentuk yang dihasilkan kemudian dipanaskan atau “disinter” dalam tungku atmosfer terkontrol untuk mengikat partikel secara metalurgi. Hasil produknya memiliki karakteristik kepresisian yang tinggi, dan umumnya bisa selesai tanpa perlu proses pemesinan lanjutan.”

Lebih lanjut Dede menerangkan. “Sifat – sifat produk yang dihasilkan dari proses powder metalurgiy pada umumnya, mampu membuat bentuk yang kompleks, porositas terkendali, tahan aus, permukaan bagus, dan lain – lain. Fleksibilitas unik dari proses PM memungkinkan produk dibuat dari bahan yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik. Dengan menggunakan bahan yang dipilih secara khusus, kemampuan ini memungkinkan penyempurnaan sifat mekanik komponen sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Ujar Dede yang tampak sangat menguasai benar teknologi ini.

Lalu Dede menambahkan juga, “bahwa proses metalurgi serbuk terdiri dari empat langkah dasar, yaitu (1) Pembuatan bubuk, (2) Pencampuran bubuk, (3) Memadatkan, dan (4) Sintering. Pemadatan umumnya dilakukan pada suhu kamar, dan proses suhu tinggi dari sintering biasanya dilakukan pada tekanan atmosfer. Pemrosesan sekunder opsional sering diikuti untuk mendapatkan properti khusus. Proses PM memiliki pemanfaatan bahan baku tertinggi (lebih dari 95%) dan kebutuhan energi terendah per kilogramnya, dibandingkan dengan proses manufaktur lainnya. Sangat cocok untuk produksi volume tinggi dengan sedikit pemborosan material. Proses permesinan lanjutan (sekunder) hampir bisa dihilangkan.”

Lebih lanjut Dede dalam penjelasannya kepada Darjono, “Contoh produk yang dihasilkan oleh proses PM, misalnya suku cadang mobil, alat-alat listrik, komponen hidrolik dan komponen peralatan sumur pengeboran minyak dan gas, dan banyak contoh produk lainnya. Proses ini dipilih karena proses PM memiliki beberapa kelebihan, seperti efektivitas biaya, fleksibilitas bentuk dan material, homogenitas bagian-ke-bagian. Proses manufaktur ini dinilai sebagai proses teknologi yang ramah lingkungan, sehingga dikenal juga sebagai Green Technology. Oleh karena itu untuk menjaga lingkungan yang bersih dan keseimbangan ekosistem, harus diciptakan teknologi – teknologi hijau lainnya.” Dede mengakhiri percakapannya.   # Darj – Bakin