Paslon independen Jabar 2018

Menjelang Pemilu Kepala Daerah serentak di tahun 2018 yang akan datang diprediksi akan ada wajah baru termasuk pada Pilgub Jabar mendatang ini. Berbagai sudut pandang dengan asumsi beberapa pengamat atas Calon -calon Pemimpin Daerah yang sudah di issue kan akan menjadi salah satu calon Gubernur Jawa Barat periode 2018 – 2023. Sebutlah nama yang begitu familiar seperti Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi dan sederet Tokoh yang ada di Jawa Barat turut meramaikan bursa calon Gubernur kali ini. Daday Hudaya, Agung Suryamal, Eka Santosa, Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin, Desi Ratnasari, UU Ruzhanul Ulum, KH. Abdulah Gymnasiar, Netty Prasetyani Heryawan, mantan Ketua DPW PKS Jabar Tate Qomarudin, Wakil Ketua DPRD Jabar Haris Yuliana, dan Anggota Fraksi PKS DPRD Jawa Barat Nur Suprianto. Adapun nama lainnya yang juga terjaring dalam bakal calon Pilkada Gubernur Jabar dalah Iwa Karniwa Sekda Jabar, Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu  dan sederet nama lain yang akan berupaya turut berebut kursi nomor satu di Jawa Barat. Begitupula Tubagus Anis, mantan Kapolda Jabar ini menyatakan minatnya bila ada partai yang mengusungnya meskipun ia lebih menginginkan menjadi anggota legislatif DPR RI.
Belum lagi terdengar kabar bahwa ada juga yang mencalonkan dari jalur Independen, mereka yang cukup percaya diri dengan ketokohannya siap melaju sebagai bacalon nanti pada saatnya. Namun apa kiranya yang diinginkan rakyat Jawa Barat atau apa kriteria yang sesungguhnya di inginkan rakyat Jawa Barat untuk Kepala Daerahnya dewasa ini? Bila pada survey seperti yang sudah ada sekarang ini, betapa terarahkannya rakyat utk memilih calon yang memang di rakit oleh partai tertentu, dan sudah barang tentu mereka itu bila kelak terpilih akan lebih mengabdi kepada partai sebagai pengusungnya. Sederet nama seperti Eggy Sujana, Jajang Suherman, Ayi Hambali diprediksi akan ikut perhelatan lima tahun sekali itu namun dengan jalur yang lebih nyata dukungan rakyat Jawa Barat atau Independen serta mungkin mereka lebih bisa mewakili Kepala Daerah Jawa Barat periode 2018-2023.
Adanya anggapan bahwa mencari atau memilih pemimpin kepala daerah didasari oleh beberapa sudut pandang, selayaknya pandangan umum seperti Elektabilitas dan Akseptabilitas atau Kemampuan para calon dan Seberapa diterima sang calon tersebut oleh para pemilih nanti. Namun Pandangan umum ataupun kriteria calon yang menjadi dasar untuk dipilih, seharusnya tidak mengacu akan prestasi saja ataupun tingkat pendidikan serta populeritas belaka, sebenarnya jika kita berkata jujur, untuk memilih pemimpin hendaknya kita lebih mengedepankan dari sisi Leadership, mengapa demikian, karena bila seorang yang memiliki tingkat leadershipnya baik, sudah barang tentu dia memiliki sisi psikologi yang baik pula dan jika keduanya sudah setara, sudah barang tentu dia orang yang taat akan agamanya.
Ukuran ketaatan seseorang akan ajaran agamanya masing-masing memang sulit dinilai, namun setidaknya seorang dengan tingkat ketaatan akan agama yang baik akan memperlihatkan hubungan yang baik dengan sesama orang atau kelompok bahkan tindakannya terhadap permasalahan yang menyangkut kehidupan orang banyak. Dalam wawancara dengan calon pemilih pemimpin di Jawa Barat secara random dari 27 orang terpilih, mereka rata-rata ingin memilih berdasarkan populeritas dan elektabilitas, seperti sudah terpola pada otak mereka bahwa pilihan yang populer adalah yang baik, namun sungguh disayangkan bila ternyata ada calon pemimpin yang tidak populer namun teruji dalam kepemimpinan dasar seperti memimpin diri sendiri untuk bermasyarakat agar terjadinya keharmonisan atau memimpin keluarganya yang harmonis dan ternyata ia serang pemimpin dalam kelompok kecil, sehingga keberadaannya tergilas oleh kepentingan politik yang kotor.
Bila dilihat dari bakal calon yang ada untuk pilkada Jawa Barat, mungkin banyak dari rakyat Jawa Barat yang belum membuktikan kebenaran dari popularitas, elektabilitas mereka, cenderung dipaksakan hanya merek yang ada untuk dipilih demi demokrasi. Bagaimana bila masyarakat Jawa Barat tidak merasa ada yang bisa mewakili keinginannya? Akankah mereka memilih atas dasar pernyataan “dari pada gak ada” lagi? Tentu itu akan berimbas kepada kebijakannya kelak bila salah satu dari mereka terpilih. Bisa saja akan terjadi ketidak percayaan rakyat pada pemimpinnya. Untuk itu KPU mengisyaratkan adanya pasangan yang langsung direkomendasikan oleh rakyat melalui jalur Independen. Saat salah satu calon yang digadang-gadangkan akan ikut perhelatan PILKADA JABAR, H. Jajang Suherman berpendapat bahwa siapapun yang akan maju dan terpilih kelak untuk menjadi Pemimpin Jawa Barat hendaknya mereka yang memiliki Ahlak baik disamping kondite umum lainnya seperti wawasan, pengetahuan, leadership dan lainnya. Menurut Jajang, pemimpin yang baik untuk Jawa Barat ini kelak harus memiliki kemampuan mempersatukan rakyat, karena issue politik yang sedang berkembang dewasa ini sepertinya ada suatu kekuatan yang akan memecah kesatuan bangsa baik dari golongan radikal kiri maupun radikal kanan bahkan sekarang ini disinyalir adanya kelompok ekstrim yang mengacu pada perpecahan bangsa , mematikan ideologi bangsa secara serentak mengikuti aksi aksi anti nasionalisme atau kesatuan dan persatuan bangsa. Untuk itu Jajang berpendapat bila Pemimpin yang terpilih adalah orang yang sanggup amanah atau pun memiliki karakter kuat yang tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik selain untuk kepentingan rakyat dan negara. Siapapun yang terpilih baik dari usungan partai politik maupun Independen, saat dia terpilih haruslah mengedepankan kepentingan rakyat dan harus mampu menyingkirkan tekanan para pendukung meskipun memiliki peluang untuk di”ahok”kan atau di diskriditkan parpol pengusungnya.
Tidak lama lagi akan dimulainya pertarungan antar calon Gubernur di Jawa Barat untuk jadi yang terpilih, siapapun dan apapun pendukungnya diharapkan akan mampu membawa Jawa Barat sejahtera karena Jawa Barat merupakan Etalase Indonesia dalam berbagai hal. Membenahi Jawa Barat harus dimulai dari pemimpin yang benar, tidak salah pilih, karena ditangan kebijakannya kelak Jawa Barat akan bersaing dengan propinsi lain dalam segala bidang. Prestasi Jawa Barat dalam skala nasional bisa dibilang merosot, pemanfaatan APBD yang tidak maksimal masih menjadi menu utama pembenahan, sistem pengelolaan dan tata ruang yang masih belum efektif dan efisien adalah sumber lambatnya pembangunan di Jawa Barat.
Selanjutnya Jajang juga mengutarakan bahwa pemimpin yang layak dipilih oleh rakyat Jawa Barat dengan mayoritas Islam di dalamnya, haruslah pemimpin yang mengacu pada sunah dan hadist Rasulullah Muhammad SAW. Karena Rasul adalah contoh pemimpin yang cerdas, bijak, berani, jujur serta amanah. Maka rakyat Jawa Barat khususnya yang beragama Islam hendaknya memilih pemimpin dengan kriteria yang diajarkan Rasulullah bukan semata pemimpin yang dibonekakan pengusungnya. Pembenahan Jawa Barat tanpa merendahkan hasil pemimpin sebelumnya, diperlukan langkah-langkah taktis dalam menyiasati berbagai keboborokan baik di pemerintahan atau tatanan sosial wilayah. Di Jawa Barat, pemimpin yang “berlabelkan” islam belum tampak mewakili agungnya kepemimpinan Rasulullah, memang tidak akan ada yang akan menandingi beliau atau setara, namun bila kaidah-kaidah kepemimpinan beliau digunakan dengan seutuh utuhnya, niscaya Jawa Barat akan sejahtera.

Paslon independen Jabar 2018