Bakinonline – Riau ,Bengkalis. Masyarakat sekitar PT. Pelita Agung Agroindustri , meradang, mengutuk pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh asap sisa pembakaran yang ditimbulkan perusahaan pengolah minyak sawit tersebut. Andika Sakai, seorang pemerhati lingkungan sekaligus aktivis peduli lingkungan yang juga tergabung dalam HPPMSR (Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Sakai Riau) protes keras dan mengutuk Perusahaan Kelapa Sawit PT. PAA di Kab. Bengkalis – Riau, yang mencemari lingkungan dimana limbah pabrik tersebut dibuang langsung ke sungai dan diduga tanpa ada proses netralisasi limbah oleh Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) perusahaan tersebut. Sungai yang dicemari adalah sungai Bathin Sobanga, sungai bersejarah di Riau.

IMG-20170209-WA0050

“Salah satu sungai tempat para orang tua kami dahulu  mencari ikan, tapi hari ini dicemari oleh limbah PKS PAA yang tidak bertanggung jawab, sehingga sungai yg dulu di kenal banyak ikan,  kini sangatlah sulit untuk mendapatkan ikan, dimana masyarakat di daerah tersebut masih banyak yang mencari ikan untuk konsumsi dan dijual sebagai mata pencaharian mereka, sekarang ini keadaan di lapangan, masyarakat tidak lagi mendapatkan ikan dari sungai tersebut, sungai tersebut diduga sudah tidak layak untuk kehidupan mahluk air dan yang paling penting , sungai tersebut harus kami lerstarikan, karena bernilai historis tinggi dimana cerita sungai tersebut telah mengukir sejarah para ninik datuk kami dahulu nya, tetapi pelestarian akan percuma di lakukan hanya karna ada nya pencemaran limbah dari PKS PAA.” Urai mahasiswa UIR semester akhir ini.
PKS PAA bukan hanya mencemari dari limbahnya tetapi juga pencemaran udara yaitu abu boiler yang memasuki rumah masyarakat di sekitarnya pabrik, sangat mengganggu pernapasan, abu atau asap hitam tersebut sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia, abu itu salah satu senyawa karbon .” Campuran untuk aspal , mengandung karbonmonoksida serta karbondioksida dan tar yang tinggi, jauh diambang batas toleransi aman bagi pernapasan manusia,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Humas HPPMSR.
M. Nur Rafi,  Ketua Umum HPPMSR juga senada dengan Andika, dan sangat kecewa kepada PKS PAA yang dinilai arogan dengan mencemari lingkungan tanpa memikirkan dampak yang terjadi kepada masyarakat disekitar pabrik. “Kita minta kepada dinas terkait, dalam hal ini BLH Kab Bengkalis untuk meninjau kelapangan agar lebih jelas apa yg telah dibuat oleh PKS PAA terhadap lingkungan  dimana dampak dari proses produksi PKS PAA tersebut sangat merusak lingkungan, seperti Abu Boiler dan pembuangan limbah ke sungai Bathin Sobanga, kemudian kita juga minta kepada Bupati Bengkalis agar meninjau kembali izin PKS PAA tersebut , jangan jangan mereka (PKS PAA) tidak memiliki izin AMDAL sesuai dengan aturan pendirian industri tersebut, seharusnya PKS ini berdiri berkisar 1 kilometer dari jalan raya agar tidak mengganggu masyakrat sekitar, kami tegaskan kembali kepada BLH Bengkalis agar responsive terhadap keluhan kami dan sesegera mungkin untuk inspeksi ke PKS PAA dan langsung menyaksikan perlakuan PKS PAA yang membuang limbah sembarangan dan mengeluarkan abu racun, kami menilai PKS PAA membunuh masyarkat dengan abu boiler atau ada  apa dengan Pemerintah Daerah atau Dinas BLH , bila seperti ini kami menduga mereka seperti tutup mata tutup telinga seolah ikut terlibat dalam penyelenggaraan izin-izin yang PKS PAA kantungi, ” urai M Nur Rafi seraya mempersilahkan Bakinonline untuk mencicipi hidangan yang disuguhkan di Asrama Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Sakai. (I.R.S-RIAU)