Jakarta – bakinonlinecom

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, bahma urusan kewajiban terhadap konsumen Meikarta sepenuhnya tanggung jawab Lippo Group.

“Kewajiban terhadap konsumen itu tanggung jawab pihak penyedia yang sebelumnya memiliki hubungan hukum perdata dengan konsumen,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah lewat keterangan tertulisnya, Kamis (18/10/2018).

Lebih lanjut, Febri menuturkan pihaknya hanya fokus pada penanganan kasus suap saja. KPK enggan mengomentari soal nasib para konsumen Meikarta karena bukan ranah penanganan perkara perdata.

“Semestinya sejak awal seluruh urusan hukum dan perizinan clear dan tanpa suap,” ujar Febri.

KPK sendiri telah menetapkan 9 tersangka dalam kasus dugaan suap terkait dengan perizinan proyek Meikarta. Penetapan 9 tersangka itu dilakukan setelah KPK menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) sejak 14 sampai 15 Oktober 2018.

Dari 9 tersangka kasus suap tersebut adalah petinggi Lippo Group Billy Sindoro yang diduga sebagai pemberi dan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin yang diduga sebagai penerima.

KPK telah menetapkan pula sejumlah pegawai Lippo sebagai tersangka pemberi suap, yaitu : Taryudi (T) dan Fitra selaku konsultan Lippo Group dan Henry Jasmen selaku pegawai Lippo Group.

Sedangkan tersangka penerima suap lainnya adalah : Jamaludin (Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi), Sahat MBJ Nahor (Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi), Dewi Tisnawati (Kepala Dinas DPMPTSP Kabupaten Bekasi), dan Neneng Rahmi (Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten).
Neneng diduga telah menerima uang haram sebesar Rp 7 miliar dari Billy melalui sejumlah kepala dinas. Pemberian dilakukan bertahap sejak bulan April, Mei, dan Juni 2018. Uang tersebut masih sebagian dari total commitment fee sebesar Rp 13 miliar.

Diduga, pemberian suap terkait dengan izin-izin yang sedang diurus oleh pemilik proyek Meikarta, seluas total 774 hektare yang dibagi ke dalam tiga tahap/ fase, yaitu fase pertama 84,6 hektare, fase kedua 252,6 hektare, dan fase ketiga 101,5 hektare.

Atas perbuatannya ini, Billy Sindoro, Taryudi, Fitra dan Henry Jasmen menjadi tersangka pelanggaran pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sementara Neneng beserta sejumlah pejabat Pemkab Bekasi bawahannya menjadi tersangka pelanggaran Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12 B Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tlndak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHPJuncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dari pantauan Crew Media Bakin, diduga masih ada proyek mega bersar dibeberapa kota di Indonesia yang dikelola oleh perusahaan besar, berkaitan dengan perizinan dan pemakaian lahan tanah adat yang masih bermasalah, “menggunakan jurus yang sama (kongkalikong)” ?   # Darjono-Bakin