Bandung, 10 Juli 2017 (bakinonline.com)

Berawal dari tekad dan kerja keras seorang ibu rumah tangga yang mempunyai anak tiga (3) dari Desa Pangalengan Kabupaten Bandung Jawa Barat bernama Inna Hananah yang mempunyai aneka usaha, melihat kegigihan dan keberhasilannya sehingga banyak orang  dekat yang menitipkan uang untuk digolangkan (diputar sebagai modal tambahan) hingga mencapai 30 orang dengan pembagian hasil 10-20 % per bulan dari nilai uang yang dititipkannya, usaha yang digelutinya antara lain :

  1. Kridit pengadaan barang rumah tangga
  2. Foto copy dan percetakan
  3. Menyediakan barang-barang yang dijual di beberapa sekolahan di Pangalengan
  4. Warnet dan Play Station (PS)
  5. Paket lebaran yang anggotanya sampai 300 orang setiap hari raya Indul Fitri
  6. Toko sembako dan pakaian
  7. Isi air ulang/ galon

Usaha ini dirintis mulai bulan Februari 2008 dan berjalan sangat pesat, seiring dengan perjalanan waktu, tepatnya mulai bulan September 2016 terjadi ketidak lancaran dalam pembayaran keuntungan untuk orang-orang yang telah menitipkan uangnya, karena banyak uang yang macet diluar, melihat kejadian ini orang-orang yang telah menitipkan uang beramai-ramai mengambil uang agar segera dikembalikan secara bersama-sama sehingga uang perputarannya beransur-ansur habis, pada waktu diwawancarai, Inna masih menyisakan hutang yang menumpuk sebesar Rp 680.000.000,-

Ditanya oleh salah satu Bakinonline Crew  di kantor redaksi Bakin, bagaiman cara membayar uang yang belum dibayarkan, “ saya bingung pak, anak saya yang masih sekolah mengalami stres berat karena banyak ancaman dan ditakut-takuti harus mengosongkan rumah dan saya akan dipenjarakan “ keluhnya, “ saya bukan mau melarikan diri atau tidak bertanggung jawab, cuma minta waktu agar saya dapat bangkit dalam menjalankan usaha dengan tidak harus dikejar-kejar dan ditakut-takuti, saya akan membayar hutang yang yang masih tersisa” Inna menambahkan dalam kesedihannya.

“ saya sudah mengajukan kredit tambahan untuk modal usaha dari bank, tapi belum ada kepastian untuk dikabulkan, saya mohon dibantu untuk dimediasi dengan pihak bank dan dengan orang-orang yang menteror saya, bahkan ada yang memaksa agar saya menyerahkan salah satu kunci rumah untuk dikuasainya“  Inna menambahkan dalam percakapannya, “Melihat kesulitan yang saya alami, anak perempuan saya yang masih sekolah rela untuk menjual ginjalnya untuk membayar utang saya, sedih pak saya mendengar keinginan anak saya “.

Saat ini Inna harus mengembalikan uang sebesar Rp 400.000.000,- (untuk 28 orang) dan membayar paket hari raya Idul Fitri yang belum dikasihkan senilai Rp 80.000.000,- (untuk kurang lebih 100 orang lagi), ditambah Rp 200.000.000,- (dari pinjaman bank yang macet) , Saya bingung pak seperti orang setengah mati rasanya” sambil sesekali mengusap air matanya. (Redaksi Bakin)