presiden joko widodod ....
bakinonline.com

Jakarta- bakinonline.com

Bicara romantisme kehebatan jaman dahulu, beda zaman pada kenyataan hari ini. Tokoh hebat jaman dahulu belum tentu hebat pada zaman/ saat ini. Siapapun orangnya jika membandingkan situasi saat ini dengan situasi dimasa presiden sebelum presiden Joko Widodo (Jokowi), adalah orang yang tak paham perubahan, jika presiden dahulu mengalami musibah yang terjadi saat ini, mungkin negara ini bubar. maybe yes maybe no!

Saat ini dunia terkapar bukan hanya terpapar, indonesia dibawah nahkoda presiden Jokowi dipersulit situasi karena masyarakatnya ‘hipokrit’. Merasa paling tahu soal agama alias merasa suci, saleh dan paling pintar soal isi kitab- kitab, banyak tahu soal ajaran agama tapi prilaku tak sesaleh yang diajarkan agama yang dia ketahui, “kritik Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F Silaen kepada Media Bakin lewat pesan singkat (10/9/2020)

Agama jangan digunakan sebagai simbol atau jubah kepintaran semata, namun tindakan/ perilakunya nol besar, pengetahuan agama jangan hanya dibibir saja, nilai moralitasnya rendah. Agama dijadikan sekedar pembeda/ tampilan luarnya saja, agar tidak sama dengan orang lain yang dianggap bodoh tak terdidik, tujuannya supaya dapat menjustifikasi/ memonopoli sebuah kebenaran yang dia ketahui, “beber Silaen.

Banyak orang ber-agama tapi jauh dari prilaku humanis dan beradab. Apa maksudnya ya kan! Membandingkan situasi saat ini dengan periode dimasa presiden sebelum Jokowi adalah kesia-siaan karena tujuannya menegasikan keberadaan pemerintah. Sebab parameter dan kondisinya berbeda jauh dengan masa sekarang.

Kalau saja keadaan (Covid-19) ini dipimpin oleh presiden sebelum Jokowi, apa bisa diukur pasti akan bagaimana dan apa yang terjadi? Apakah ada jaminan akan menjadi lebih baik dari masa Jokowi memerintah sekarang ini. Tak ada jaminan bahwa ekonomi, dll akan jauh lebih baik, ada yang bisa jamin?, “Tanya Silaen.

Tapi dalam pandangan mata bathin saya, jika bukan Jokowi presidennya, musibah Covid-19 yang terjadi sekarang ini, mungkin dampaknya jauh lebih buruk dari kepemimpinan Jokowi saat ini.

Jokowi sudah terpilih menjadi Presiden jilid II, so what gitu loh! Menurut hemat saya, Tuhan penguasa alam semesta sudah memberikan pemimpin Indonesia yang terbaik dari yang buruk. Keadaan yang buruk (Covid-19)lah menjadikan Jokowi seolah-olah tak baik, hallo bisa baca kah, “papar Silaen.

Manusia yang membandingkan situasi saat ini, juga akan sama saja pendapatnya nanti dimasa purna-nya presiden Jokowi memimpin Indonesia ini. Masa sulit ini bukan saja menghantam ekonomi Indonesia tapi seluruh dunia, itu yang perlu diketahui dan dijadikan bahan perenungan bersama. Bagaimana bersatu-padu memulihkan kembali Indonesia.

Tuhan sudah memberikan sosok presiden Jokowi tentu saja sang pemberi restu sudah lebih tahu apa yang terbaik buat masa depan bangsa ini kedepannya. Menjorokin pemimpin itu sama saja tak mengakui proses yang sudah dilalui dan disepakati bersama didalam berbangsa dan bernegara.

Pertanyaan saya, kenapa kalau yang salah urus misalnya propinsi, kabupaten/ kota, kenapa juga tidak disuruh mundur oleh elite politik dan lain sebagainya. Bagian mana yang presiden Jokowi tak urus dinegeri ini? Bagian apa pula yang gubernur, bupati dan walikota tak urus? Kan masing-masing punya lingkup tugas, fungsi dan tanggung- jawab masing-masing kepala daerah, “terang Silaen.

Jadi saya kok semakin bingung melihat situasi gonjang- ganjing ini ditimpakan kepada seorang Jokowi, yang lainnya kemana?. Apakah Jokowi ini sajakah yang harus dironrong/digonggong? Kenapa juga tak dilakukan kepada gebernur dan seterusnya? Takut!

Lucu kali kurasa para ‘penggonggong’ Jokowi ini, apa tajinya cuma beraninya hanya kepada Jokowi tapi tidak kepada gubernur yang notabene sama-sama ‘election leader’. Terus mengapa hanya Jokowi saja yang digonggongin kiri kanan, macam hebat betul aja!, “sindir Silaen.

Ada juga oknum tertentu yang membandingkan kebijakan Gubernur dengan kebijakan Presiden. Presiden kan sebagai Kepala Negara sekaligus kepala pusat pemerintahan, yang notabene presidennya seluruh gubernur dan seterusnya. Ada 34 jumlah gubernur, tapi Presidennya kan satu? Apa karena Jokowi bukan pemilik partai politik!, “ungkap Silaen.

Gubernur dipropinsi tertentu kan tidak mengurusi gubernur propinsi lain? Sedangkan Presiden harus mengurusi semua propinsi sampai ke kabupaten/ kota. Harus dipastikan apakah sudah bagus jalannya dll, “terangnya.

Kok bisa- bisanya membandingkan satu propinsi (Gubernur) dengan Presiden Indonesia. Ada apa iya? Mau mendegradasi kepemimpinan presiden?

Presiden Jokowi mengurus seluruh rakyat Indonesia, dari merauke sampai kesabang. Gubernur yang  diurusin kan hanya lingkup birokrasi pemerintah propinsi, itu saja sudah ‘memble’ kok. Bagaimana mau urus 260an juta, “kritik Silaen.

Jadi dimasa sulit pandemik covid-19 seperti sekarang ini, jika tak dapat membantu pemerintah ya minimal tak usah menyusahkanlah, itu jauh lebih baik daripada hanya menambah runyam situasi saja. Intropeksi diri itu jauh lebih baik alias ‘ngaca’, demokrasi sih demokrasi, tapi jangan demo-grazy, “imbuhnya.

Musuh kita bersama adalah pandemik covid-19, ini adalah musuh yang tak terlihat tapi mematikan, mungkin saja nanti akan ada lagi musuh yang lebih ganas, yang kena langsung tewas, Ngeriii kan!

Ujian ini tidak sama dengan masa presiden sebelum Jokowi. Jadi hemat saya tak perlu menyamakan apalagi membandingkannya, terlalu berlebihan seperti tak punya akal sehat. Kata orang bijak “setiap masa ada pemimpinnya (orangnya), setiap pemimpin (orangnya) ada masanya”, itu semuanya itu sudah ada yang atur, percayalah Tuhan tidak pernah tertidur walau sedetik pun, “tandas Silaen.   (darj/red.bakn)