Jakarta, Bakinonline.com

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan mengatakan, “KPU cenderung mengupayakan agar mantan narapidana perkara korupsi tak bisa mendaftar sebagai calon anggota legislatif ( caleg).” Hal itu disampaikan Wahyu menanggapi hasil rapat dengar pen rapat tersebut, Komisi II meminta KPU tak melarang mantan terpidana atau napi kasus korupsi mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg). “Jadi kami akan pleno dulu, tapi besar kemungkinan arahnya adalah kami akan tetap kepada usulan kami,” kata Wahyu, Selasa (22/05/20180)  di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

“Kita saling menghormati, lah. Bahwa pandangan DPR seperti itu kami hormati. Pandangan pemerintah seperti itu kami hormati. Kami juga berharap pandangan kami juga dihormati,” ucap Wahyu.

Belum ada argumentasi yang kuat untuk mengubah sikap KPU melarang pencalonan mantan napi kasus korupsi. Karena itu, KPU akan membahasnya dalam rapat pleno dan terus mematangkan argumentasi soal pelarangan mantan napi kasus korupsi menjadi caleg. “Kenapa kami pleno.

Karena kami masih berpandangan kepada sikap kami awal bahwa kami akan berupaya mempertahankan draf yang kami susun itu sepanjang tak ada argumentasi yang begitu kuat untuk mengubah,” ujar Dia.

DPR sebelumnya meminta KPU tak melarang mantan terpidana korupsi mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif (caleg). Hal itu menjadi kesimpulan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi II DPR dengan KPU di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/5/2018). “Komisi II DPR, Bawaslu, Kemendagri menyepakati aturan larangan mantan napi korupsi dikembalikan peraturannya pada pasal 240 ayat 1 huruf g Undang-undang No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu,” kata Wakil Ketua Komisi II Nihayatul Mafiroh saat membacakan kesimpulan rapat.  “Parpol Penting Mengedepankan Caleg yang Berintegritas, Berkualitas”

Ketua Komisi II Zainudin Amali menambahkan, DPR beserta pemerintah dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga telah bersepakat agar KPU berpedoman pada Undang-undang Pemilu.

Dalam pasal tersebut, dinyatakan, seorang caleg yang berstatus mantan narapidana yang telah menjalani masa hukuman selama lima tahun atau lebih, boleh mencalonkan diri selama yang bersangkutan mengumumkan pernah berstatus sebagai narapidana kepada publik.

Dengan demikian mantan narapidana korupsi pun bisa mencalonkan diri sebagai caleg. “Saya kira kan kesimpulan rapat sudah jelas. Bolanya sekarang ada di KPU,” kata Amali.  (Redaksi Bakin)