Bandung, 9 Agustus 2017 (bakinonline.com)

Di kota Tuban Jawa Timur telah berdiri sebuah patung Dewa Perang Kwan Sing Tee Koen, setinggi 30, 40 meter, tepatnya di Klenteng Tri Dharma Kwan Sing Bio, yang kini menjadi polemik di tengah masyarakat.

Patung Dewa Kwan Sing Tee Koen di Klenteng Kwan Sing Bio, diklaim sebagai patung Panglima Perang tertinggi di Asia Tenggara dengan menelan biaya sebesar kurang lebih Rp 2,5 miliar. Pada bulan Juli yang lalu patung tersebut telah diresmikan oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Menyikapi Keberadaan Patung Dewa Kwan Sing Tee Koen tersebut. Darjono memandang sebagai hal yang biasa dan merupakan salah satu budaya yang berkembang di Indonesia, “ sebaiknya kita lihat dari sisi positipnya dan dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik kunjungan wisata yang dapat dikelola dengan baik dan dapat mendatangkan devisa bagi negara dan masyarakat sekitar kota Tuban “.

“Dan harus tetap dipelihara, dijaga dan diawasi agar tidak digunakan untuk maksud-maksud tertentu yang dapat meresahkan masyarakat”.

“Kita lihat aneka patung di pulau Bali dan di tempat-tempat lain di Indonesia yang menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri  bagi wisatawan manca negara dan domestic”.

“Sebaiknya kita memandang sesuatu karya seni jangan dipandang dari sisi negatifnya saja tapi kita pandang dari sisi positip lainnya. Bagai mana dengan patung-patung, Camdi-candi peninggalan pada masa lalu di bumi Nusantara ini, jauh sebelum negara Indonesia ada ?. Sebagai peninggalan budaya di tanah Nusantara yang harus tetap kita jaga dan lestarikan”.

“Pemerintah harus cepat turun tangan agar polemik dan perdebatan tentang keberadaan patung Dewa Kwan Sing Tee Koen ini tidak berkembang menjadi kerusuhan dan sara, yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab sehingga dapat meresahkan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia” Darjono menambahkan percakapannya dalam bincang-bincang mengenai keberadaan patung Dewa Perang yang sedang menjadi polemik di tengah masyarakat.  (M. Ari Nanjaya- Bakin)