Gonjang-ganjing Bumi Nusantara, “Setelah Keraton Agung Sejagat, Muncul Sunda Empire”

Bandung – bakinonline.com

Ketika kehadiran Keraton Agung Sejagat menyedot perhatian masyarakat, di media sosial beredar video tentang keberadaan apa yang disebut sebagai Sunda Empire, yang pemimpinnya mengklaim membawahi lebih dari 150 negara di dunia.

Nama Sunda bukan merujuk pada sebuah suku yang ada di Jawa Barat, kata pimpinannya.

Seseorang yang menyebut dirinya Yang Mulia Grand Prime Minister sedang bersalaman dengan dua orang “jenderal” di sebuah acara Sunda Empire, 27 Desember 2019 di dekat Isola Bandung, kampus UPI Bandung.

“Sunda itu berartikan sun, matahari. Jadi kekaisaran matahari karena bumi itu berasal dari percikan matahari yang membeku,” kata Ki Ageng Ranggasasana, tokoh Sunda Empire, kepada wartawan di Bandung, Minggu (19/1/2020).

Ki Ageng Ranggasasana, kelahiran 1967, mengaku sebagai Gubernur Jenderal Nusantara Territory berpangkat Letnan Jenderal.

Dia membenarkan dirinya adalah orang yang tampil di video yang menjelaskan tentang Sunda Empire. Video yang diunggah di YouTube ini viral dan menjadi sumber pemberitaan sejumlah media massa.

Rangga mengaku keturunan ke 13 Prabu Siliwangi dan meminta dipanggil sebagai His Royal Highness.

Dia mengklaim, anggota Sunda Empire adalah kepala negara atau kepala pemerintahan dari 196 negara dan rakyatnya adalah semua penghuni bumi.

Ki Ageng Ranggasasana, kelahiran 1967, mengaku sebagai Gubernur Jenderal Nusantara Territory berpangkat Letnan Jenderal.

“Termasuk presiden AS, presiden (Rusia) Putin, presiden China, itu anggota kita yang mengelola di wilayahnya masing-masing,” kata Rangga kepada awak media.

Pria kelahiran Brebes 53 tahun lalu itu menjelaskan, Sunda Empire Earth Empire berdiri pada masa kepemimpinan Alexander The Great, 324 SM.

Kemudian diturunkan ke Julius Caesar yang beristrikan Cleopatra VII yang memerintah dari 43 SM hingga 337 Masehi, katanya.

Dari Cleopatra VII inilah, lanjut Rangga, kekuasaan Sunda Empire diteruskan Dinasti Tarumanagara oleh Sri Ratu Isywara Tunggal Bumi.

Sunda Empire mengklaim memiliki pasukan atau anggota di Indonesia sebanyak 17 ribu personil, sementara di Bandung sebanyak 1300 personil.

Kemudian turun temurun ke Dinasti Siliwangi, kemudian Dinasti Padjajaran, dan saat ini Dinasti Sunda Kala yang dipimpin oleh Kanjeng Ratu Ratna Ningrum Wiranatadikusuma Siliwangi- Al Misri.

Rangga tidak menjelaskan bagaimana proses rekrutmen anggotanya, tapi dia menegaskan tidak ada syarat tertentu bergabung di kekaisaran Matahari.

“Tidak ada syarat apapun, terpenting mereka sehat, orang yang beriman, dan hanya menyerahkan KTP atau paspor atau mengisi formulir yang diajukan oleh gubernur jenderal kepada Yang Mulia Grand Prime Minister, tanpa dipungut biaya apapun,” ujarnya.

Apa pendapat sejarawan atas klaim Sunda Empire?

Atas sejumlah klaim Sunda Empire, Rangga diminta menunjukkan sejumlah dokumen atau foto yang menguatkan klaimnya tersebut.

Meski mengaku memiliki dokumennya, tapi hingga tulisan ditayangkan, dokumen, foto atau bukti pendukung lainnya belum diperlihatkan.

“Ada (dokumen dan buktinya). Semua bisa dipertanggungjawabkan. (Kalau mau bukti) silakan bisa hubungi Ratu Inggris, Ratu Belanda, Raja Malaysia, Presiden Amerika, Presiden Rusia, Presiden China, World Bank, PBB, mahkamah internasional, dan sebagainya,” ujar Rangga saat didesak menunjukkan dokumennya.

Sejarahwan dari Universitas Padjajaran, Widyo Nugrahanto menyebutkan, perlu ada bukti otentik atau bukti primer berupa tulisan silsilah yang menyatakan seseorang keturunan Prabu Siliwangi.

“Siliwangi itu juga bukan satu orang. Beberapa raja Sunda Pajajaran itu disebut Siliwangi. Jadi harus ada bukti Siliwangi yang mana yang menurunkannya. Itupun catatan silsilahnya harus dikritik dulu, baik kritik ekstern maupun intern. Baru kita bisa mengatakan itu sebuah fakta,” ujar Widyo kepada wartawan di Bandung,

Mengapa mereka percaya teori konspirasi dan pseudo science ?.

Widyo menilai fenomena kemunculan Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat sebagai “gerakan sosial”.

Menurutnya, para pengikut dan pendiri gerakan sosial biasanya percaya pada teori konspirasi dan pseudo science.

Mereka juga tidak puas pada tatanan dunia sekarang dan tatanan sosial politik ekonomi di daerah tempat tinggalnya, serta punya ambisi sosial politik ekonomi yang tidak atau belum tercapai, paparnya.

“Lalu mereka memimpikan munculnya kembali kejayaan masa lalu yang mereka anggap sebagai kehidupan yang paling baik untuk diterapkan kembali pada kehidupan sekarang,” ujarnya.

Senada dengan Widyo, dosen antropologi Universitas Padjajaran, Ira Indrawardana mengatakan, fenomena kerajaan dan kekaisaran bukanlah hal yang baru dan aneh jika dilihat dari ilmu sosial.

Pasalnya, kebudayaan dan kehidupan sosial itu dinamis, katanya.

“Bisa dianggap wajar-wajar saja tergantung penyikapan publik dan dampaknya terhadap masyarakat,” kata Ira.

Bukan hal aneh pula, lanjut Ira, bila mereka suka memakai simbol kaisar, raja, atau sultan. Sebab, dalam perspektif antropologis, simbol itu adalah great tradition yang sejauh ini menjadi simbol figure central of culture dalam berbagai kebudayaan di Nusantara, paparnya.

‘Mencari legitimasi politik’ dengan merujuk kepada Siliwangi

Cara seseorang mengaitkan dirinya dengan tokoh besar di masa lalu, kata Widyo, sering dilakukan orang di Indonesia untuk mencari legitimasi politiknya.

“Makanya, ada yang mencari legitimasi politik dengan mengaitkan leluhurnya dengan Siliwangi, Raja Pajajaran, dan atau mengaitkan dirinya dengan Brawijaya, Raja Majapahit,” kata dia.

Mengenai sejarah Sunda Empire yang diuraikan Rangga, Widyo menilai klaim tersebut sebagai pseudo science yaitu belum ada fakta jelas atau fakta kerasnya yang berarti tidak ada sumber data yang kuat, termasuk klaim Sunda Empire didirikan oleh Alexander The Great.

“Tidak ada fakta itu. Alexander itu hanya sampai India. Tidak sampai Asia Tenggara. Sedangkan kerajaan Alexander di Yunani itu adalah Macedonia,” ujar Widyo.

Sedangkan Kepulauan Nusantara pada 324 SM, masa yang diklaim didirikan Sunda Empire, menurut Widyo, masih dihuni oleh Bangsa Austronesia yang pindah dari Pulau Formosa ke Nusantara.

“Belum ada kerajaan di Nusantara karena masyarakatnya masih hidup pada masa Megalithikum atau zaman batu. Kerajaan tertua sekitar abad ke 5 yaitu Kutai Tarumanegara dan Selakanegara,” papar penulis sejumlah buku sejarah ini.

Mengenai PBB, Vatican, World Bank, Pentagon serta NATO yang diakui bagian dari Sunda Empire, Widyo menegaskan klaim itu adalah sebuah teori konspirasi.

“Dalam sejarah kalau tidak ada bukti berupa fakta, maka akan susah dianggap sebuah kebenaran. Fakta itu akan ada, jika ada bukti berupa sumber tertulis maupun benda yang primer. Kalau tidak, itu hanya sebuah teori konspirasi saja,” kata Widyo.

Menurutnya, sejarah pembentukan PBB jelas dan terang benderang ditulis banyak orang dan ia mengaku tidak pernah membaca klaim seperti itu.

“Pentagon dan NATO juga saya baru dengar mereka yang ikut membentuknya. Semua itu sejarahnya jelas kok, bisa ditelusuri. Agak aneh kalau mereka ikut membentuknya,” kata Dosen di Fakultas Ilmu dan Budaya Unpad ini.

# Darj- Bkn