Yogjakarta, 24 Juli 2017  (bakinonline.com)

Lahan gambut merupakan suatu ekosistem lahan basah yang dibentuk oleh adanya penimbunan atau akumulasi bahan organik yang berasal dari reruntuhan vegetasi di atasnya dalam kurun waktu yang lama. Akumulasi ini terjadi karena lambatnya laju dekomposisi dibandingkan dengan laju penimbunan bahan organik di lantai hutan yang basah atau tergenang.

Gambut didefinisikan sebagai tanah yang tersusun dari bahan organik dengan ketebalan lebih dari 40 cm atau 60 cm, tergantung dari berat jenis (BD) dan tingkat dekomposisi bahan organiknya.

Lahan gambut menyediakan jasa lingkungan antara lain berupa :

  1. Fungsi pendukung (produksi primer, siklus hara, perawatan tanah),
  2. Fungsi penyedia (makanan, air, serat, kayu, bahan bakar, obat-obatan, obat dari hasil hutan bukan kayu),
  3. Fungsi pengaturan (iklim, banjir, sedimentasi, kekeringan, penyakit),
  4. Fungsi budaya (estetis, spiritual, rekreasi, pendidikan, ekowisata),
  5. Fungsi biologis (keanekaragaman hayati yang unik, sumberdaya genetik, sumber daya biokimia)
  6. Fungsi jasa lingkungan dari ekosistem gambut cukup vital karena lahan gambut merupakan penyimpan cadangan air dan penyimpan stok karbon.

Lahan gambut berperan penting dalam perubahan iklim serta keanekaragaman hayati yang saat ini eksistensinya semakin terancam. Lahan ini mempunyai fungsi lingkungan bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta makhluk hidup lainnya sehingga harus dilindungi dan dilestarikan.

Luas lahan gambut di Indonesia mencapai 12,9 juta hektar yang tersebar di tujuh provinsi. Dari luas tersebut, 875 ribu Ha mengalami kerusakan karena terbakar pada tahun 2015, 2,8 juta Ha merupakan kawasan kubah berkanal, 3,1 juta merupakan lahan gambut budidaya dengan kanal, dan 6,2 juta Ha merupakan kawasan kubah gambut yang belum terbuka.

Lahan gambut jika sudah dibuka merupakan suatu ekosistem yang unik, dan rapuh (fragile). Hampir semua kerusakan hutan dan lahan gambut disebabkan oleh aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak. Hanya sebagian kecil kerusakan yang disebabkan oleh alam, misalnya petir, tanah longsor, banjir bandang, dan gempa bumi.

Disamping penebangan kayu beserta aktivitas ikutannya yang tidak terkendali, kegiatan pertanian dan perkebunan (termasuk hutan tanaman industri dan kelapa sawit) juga memberikan kontribusi bagi rusaknya ekosistem gambut. Dalam hal ini, reklamasi dengan sistem drainase berlebihan yang menyebabkan keringnya gambut, dan kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar, menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. Kerusakan lahan juga bisa terjadi karena keterbatasan kemampuan untuk mendapatkan pupuk dan bahan ameliorasi. Aktivitas pertambangan dan konversi kawasan hutan menjadi peruntukan lainnya seperti lahan pemukiman dan transmigrasi turut mendorong percepatan deforestasi pada lahan gambut. Deforestasi di lahan gambut disebut-sebut menyumbang emisi karbon paling tinggi di Indonesia yang bisa mempengaruhi iklim global .

                                              Dari total lahan gambut yang dimiliki Indonesia, terdapat lebih dari setengah luas yang harus dipulihkan . Dalam buku “Strategy for Responsible Peatland Management“ yang diterbitkan oleh International Peat Society (IPS), terdapat dua istilah yang digunakan dalam perbaikan lahan gambut yaitu rehabilitasi dan restorasi. Rehabilitasi didefinisikan reparasi proses ekosistem, produktivitas dan manfaat dari semula lahan gambut, tetapi tidak berarti pembentukan kembali satuan biotik yang sudah ada, dalam hal komposisi, jenis dan struktur komunitas, sedangkan restorasi didefinisikan sebagai proses membantu pemulihan lahan gambut yang telah rusak atau rusak untuk sedekat mungkin dengan kondisi alam aslinya. Upaya rehabilitasi kawasan gambut yang sudah rusak dilakukan dengan strategi obyektif berupa pembasahan kembali (Rewetting) dan bukan pembasahan kembali (Non Rewetting). Sementara itu, upaya untuk merestorasi gambut meliputi tiga hal, yaitu pembasahan kembali, penanaman kembali, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Indonesia menjadi sorotan negara lain akibat besarnya emisi gas rumah kaca yang tercipta dari kebakaran lahan gambut pada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2015. Pemerintah Indonesia kemudian berkomitmen untuk memperbaiki lahan gambut melalui pembentukan Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan target restorasi seluas hampir 2,5 juta hektar. Indonesia juga berambisi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga mencapai 0,672 giga ton. Kebijakan ini didukung serta oleh beberapa pemerintah daerah, korporasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam rangka menyelamatkan lahan gambut. Masyarakat internasional pun turut menunjukkan respon positif melalui kerja sama internasional untuk riset, pendidikan, dan pendanaan restorasi gambut. (Siti Hudaiyah-UGM)

Dilansir dari Okezone, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa ‘United Nations