Pandegelang – bakinonline.com

Dalan fotonya, Presiden Joko Widodo yang terlihat sendiri saat meninjau daerah terdampak tsunami di Pandeglang, Banten ramai dibahas di media sosial, terutama oleh kubu lawan politiknya. Jokowi dinilai tengah melakukan upaya pencitraanm, kritikan makin deras lantaran pencitraan itu dituding dilakukan di kawasan bencana alam.

Selain di pandegelang, ditempat bencana lain Jokowi terlihat sendiri kembali ditampilkan. Beberapa foto itu antara lain foto Jokowi saat meninjau kebakaran hutan, saat meninjau gempa lombok, juga foto saat meninjau lokasi gempa dan tsunami Palu.

Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Demokrat Ferdinand Hutahaean menuding, yang  merupakan salah satu partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di pilpres 2019. Menilaifoto  Jokowi sendiri di lokasi terdampak tsunami di Banten sebagai pencitraan dan direncanakan.

Ferdinand menambahkan, dalam setiap kunjunganya, Jokowi sebagai presiden pasti didampingi oleh Pasukan Pengaman Presiden (Paspanpres) dan ajudan, menteri serta pejabat daerah setempat. Namun dalam foto, Jokowi seolah-olah benar-benar sedang sendirian.

Lain lagi, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon juga menyindir mantan Gubernur DKI  itu. Ia menyebut Jokowi sebagai “One Man Show”.

Pakar komunikasi politik Universitas Bunda Mulia Silvanus Alvin mengatakan hal yang wajar jika lawan politik menilai Jokowi saat melakukan pencitraan dengan berfoto dan mengunggah foto kesendiriannya di lokasi yang sedang terjadi bencana.

Kata dia, yang dilakukan Jokowi adalah merupakan strategi bercerita politik melalui medium digital (digital storytelling politics).

Alvin mengatakan,  melalui visual dalam hal ini foto Jokowi ingin memberikan pesan bahwa ia tidak hanya bersimpati tapi juga punya empati. Jokowi ingin mencitrakan dirinya sebagai seorang pemimpin yang langsung turun tangan untuk mengatasi persoalan.

“Bahwa Jokowi sebagai pemimpin tidak segan mendatangi lokasi bencana. Intinya, he is the man who can be count on,” ucap Alvin saat dihubungi media

Jika diperhatikan, dalam setiap foto Jokowi di lokasi bencana dia kerap kali mengenakan kemeja putih yang digulung. Hal itu, menurut Alvin memiliki pesan tersendiri. Melalui pakaiannya itu dia ingin memberikan persepsi bahwa dirinya adalah seorang yang bersih, dan jujur dalam bekerja.

Warna putih di kemeja Jokowi itu, lanjut Alvin, juga mengesankan unsur ketentraman, bahwa ia ingin memberikan kelegaan pada para korban yang sedang berduka.

“Pertama, itu sebuah pesan semiotika bahwa Jokowi merupakan pimpinan yang bersih dan jujur dalam bekerja. Kedua, kemeja putih dengan lengan digulung adalah bagian dari personifikasi diri Jokowi,” ujarnya.

“Tak salah bila kubu Prabowo mengatakan foto-foto di lokasi bencana sebagai pencitraan. Karena foto-foto atau konten yang diunggah di media sosial itu tidak dapat dikatakan objektif. Pasti ada proses seleksi, subjektif, dan direncanakan sebagai bagian dari manajemen citra politik,” tutur Alvin.

Diunggahnya foto-foto tersebut dinilai Alvin bertujuan untuk mempertahankan para pemilihnya dengan memberikan persepsi positif.  Pasalnya, menurut Alvin, pemegang hak pilih memilih kandidat berdasarkan persepsi yang sudah terbentuk.

Kendati begitu, persepsi yang ditawarkan Jokowi ini tidak akan signifikan meraih suara dari kalangan pemilih mengambang atau swing voters. Jumlah suara Jokowi tidak akan serta merta meroket dengan unggahan foto-foto tersebut.

Diharapkan, dengan foto kesendirian Jokowi itu merupakan langkah yang cukup efektif untuk memberikan persepsi positif kepada khalayak. Dengan pesan nonverbal yang diberikan secara konsisten, Jokowi tetap bisa mempertahankan konstituennya.    #  Red. Bkn