UGM Jogyakarta  (bakinonline.com)

Indonesia mempunyai hutan spesial yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain, yaitu hutan tropis. Keberadaan ini menjadikan posisi Indonesia sebagai negara yang kaya namun bagai kapak bermata dua. Satu sisi kekayaan bisa menyejahterakan masyarakat lewat potensi ekonomi yang disimpan, namun sisi lain bisa menyengsarakan masyarakat lewat ancaman bahaya jika tidak dikelola dengan baik.

Selain menyokong keanekaragaman hayati dan masyarakat yang bergantung pada hutan, hutan hujan tropis memainkan suatu peran vital dalam iklim global dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida, gas yang dipercaya oleh ahli sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Pepohonan hutan merupakan suatu komponen yang dapat menyerap karbon atmosfer (carbon sequestration) dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap diubah menjadi biomassa (carbon sink) sekaligus disimpan dalam sistem sebagai stok karbon (carbon stock). Hutan hujan tropis merupakan penyerap karbon terbaik dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Hutan hujan tropis juga berperan dalam menciptakan kondisi cuaca lokal dengan membuat hujan dan mengatur suhu.

Hutan hujan tropis memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap dan menyimpan air sehingga dapat dijadikan penyangga dari bencana banjir dan kekeringan global. Ketika musim hujan tiba, hutan hujan tropis dapat mengurangi limpasan air melalui stratifikasi tajuk yang berlapis-lapis sehingga sebagian besar air tetap berada di dalam ekosistem. Sedangkan ketika musim kemarau tiba, kekurangan air dapat ditutupi dari cadangan yang diperoleh selama musim hujan.

Dengan luas hutan sekitar 109 juta hektar pada tahun 2003, Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Tetapi dari luasan hutan yang tersisa, hampir setengahnya terdegradasi. Pada tahun 1997-2000, laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun. Sementara itu, laju kerusakan hutan pada tahun 2000-2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan bola/jam. Menurut data kementerian kehutanan, laju deforestasi Indonesia pada tahun 2003-2011 mencapai 0,82 juta hektar/tahun.

Deforestasi terjadi karena berbagai faktor yang menumbalkan hutan atas dasar pemenuhan kebutuhan manusia. Organisasi lingkungan, WWF mencatat faktor terbesar yang menyebabkan deforestasi antara lain: konversi hutan menjadi lahan pertanian, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan penggunaan kayu bakar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi manusia yang terus membengkak, hutan dibuka menjadi kebun dan area peternakan secara masif. Permintaan yang terus meningkat terhadap kayu internasional, hampir 50% dipenuhi melalui pemanenan kayu di hutan alam secara ilegal. Kebakaran hutan menyumbangkan deforestasi tertinggi dibandingkan faktor lain. Penggunaan kayu untuk bahan bakar juga signifikan mendorong deforestasi. Pusat penelitian kehutanan internasional, CIFOR menambahkan pemicu deforestasi termasuk tekanan kemiskinan dan populasi, saat penduduk mencari lahan garapan, bahan bakar kayu dan bahan bangunan. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, pertambangan dan bendungan turut menyokong tingginya laju deforestasi di Indonesia.

Deforestasi terjadi baik di hutan temperate maupun hutan hujan tropis. Namun dunia sangat mengkhawatirkan laju deforestasi besar-besaran yang terjadi di hutan hujan tropis karena berfungsi sebagai penyangga kehidupan di bumi yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan menjadi penyimpan cadangan biomassa paling besar. Kerusakan hutan tropis bertanggungjawab atas seperlima emisi gas rumah kaca di bumi, lebih dari akumulasi jumlah emisi yang dihasilkan kereta, pesawat dan mobil seluruh dunia.

Dampak paling mengerikan dari deforetasi adalah perubahan iklim global. Deforestasi berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal. Pertama, perambahan dan pembakaran hutan melepaskan karbondioksida ke atmosfer. Deforestasi mengakibatkan lepasnya karbon yang awalnya tersimpan di dalam pohon sebagai emisi karbondioksida. Hal ini berlangsung dengan cepat apabila pohon dibakar dan berjalan lambat apabila mengalami pelapukan secara alami. Kedua, kerusakan hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap karbon dioksida. Kedua peran ini sangat penting dalam pertarungan menghadapi perubahan iklim.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun besarnya bahaya belum dapat dipastikan, World Bank memperkirakan dampak perubahan iklim yang signifikan bagi Indonesia adalah: kenaikan temperatur global, curah hujan yang lebih tinggi dan musim hujan yang lebih pendek sehingga merubah keseimbangan air dan energi, kenaikan permukaan air laut, ancaman ketahanan pangan dan menurunnya produktivitas pertanian serta perikanan, ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan pemutihan terumbu karang. Dunia juga dihadapkan pada banjir yang lebih sering dan besar, kekeringan, kelaparan serta runtuhnya ekosistem seperti hutan Amazon, punahnya 20-50% dari seluruh rumpun mahluk hidup dan meningkatnya permukaan air laut akibat lapisan es yang meleleh.

Para ilmuwan telah memperingatkan kenaikan suhu global harus berada di bawah 2°C dibanding sebelum revolusi industri untuk menghindari dampak perubahan iklim yang lebih parah. Bumi yang lebih hangat 2°C akan mengubah kehidupan yang kita jalani saat ini. Organisasi lingkungan, Greenpeace menyatakan untuk mendapatkan kesempatan terbaik dalam mempertahankan kenaikan suhu di bawah 2oC, emisi gas rumah kaca harus mencapai puncaknya pada tahun 2015 kemudian harus menurun drastis.

Indonesia berkomitmen untuk menjalani masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim yang terurai dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Indonesia memandang perlu upaya komprehensif adaptasi dan mitigasi berbasis lahan dan laut sebagai sebuah pertimbangan strategi dalam mencapai ketahanan iklim terkait pangan, air dan energi. Pada sektor berbasis lahan, REDD+ atau reducing emissions from deforestation and forest degradation and enhancing carbon stocks in developing countries menjadi komponen penting dari target NDC Indonesia. Forest Reference Emission Level (FREL) Indonesia untuk REDD+ yang mencakup deforestasi dan degradasi hutan serta dekomposisi gambut ditetapkan sebesar 0.568 GtCO2e/tahun untuk pool karbon Above Ground Biomass hingga 2020. Namun upaya tersebut nampaknya belum konsisten dijalankan oleh pemerintah Indonesia melihat masih tingginya angka deforestasi.

Indonesia perlu mengembangkan teknik budidaya tanaman pertanian, kehutanan, dan peternakan yang lebih produktif di area yang sudah ada. Produktivitas yang tinggi akan mendorong terpenuhinya kebutuhan tanpa perlu membuka lahan baru yang mengorbankan huim bisa sedikit teratasi. Upaya ini memerlukan kolaborasi aktif dari semua sektor dan semua pihak agar hutan mampu bertahan untuk perubahan iklim.

Selain itu, pemerintah Indonesia agaknya perlu mencontoh ketegasan pemerintah Bhutan dalam menerapkan kebijakan terkait perlindungan lingkungan hidup yang sangat ketat. Bhutan memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk memastikan negaranya tetap netral karbon termasuk amandemen konstitusi untuk menjamin area berhutan tidak kurang dari 60%, dan tan. Dengan demikian, angka deforestasi bisa ditekan dan kekhawatiran akan perubahan iklmelarang penebangan untuk ekspor. Bahkan negara ini berambisi untuk menghasilkan nol emisi gas rumah kaca. Kebijakan tersebut dilaksanakan secara konsisten oleh pemerintah dan masyarakat sehingga mengantarkan Bhutan sebagai negara yang menyerap karbon lebih banyak dibandingkan dengan karbon yang dihasilkan atau carbon negative(Siti Hudaiyah- Bakin UGM)

Referensi :   

Anna Tosiani, “Buku Kegiatan Serapan dan Emisi Karbon”, (Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015).

Center of International Forestry Research, “Peliputan REDD+: Sebuah Panduan bagi Jurnalis tentang Peranan Hutan dalam Menghadapi Perubahan Iklim Global”, (Bogor: CIFOR, 2017).

Climate Action Programme, “Bhutan: the World’s First Carbon-negative Country”, Climate Action Programme News, source: http://www.climateactionprogramme.org/news/bhutan_the_worlds_only_carbon_negative_country, accessed at 5th August 2017

Greenpeace Indonesia, “Hutan Tropis Indonesia dan Krisis Iklim”, (Jakarta: Greenpeace Indonesia, 2010).

Fenky Marsandi, “Tinjauan Pustaka”, (IPB: Repository IPB, 2017).

Susan Stone, Mario Chacon Leon dan Patricia Fredericks, “Perubahan Iklim dan Peran Hutan”, (Jakarta: Conservation International Indonesia, 2010)

United Nation Framework for Climate Change Conference, “Intended Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia”, UNFCCC Report, source: http://www4.unfccc.int/submissions/INDC/Published%20Documents/Indonesia/1/INDC_REPUBLIC%20OF%20INDONESIA.pdf, accessed at 5th Agustus 2017

William D Sunderlin dan Ida Aju Pradnja Resosudarmo, “Laju dan Penyebab Deforestasi di Indonesia: Penelaahan Kerancuan dan Penyelesaian”, (Bogor: Center for International Forestry Research, 1997).

World Bank, “Adaptasi terhadap Perubahan Iklim: Policy Brief”, (Jakarta: Kantor Bank Dunia Jakarta, 2017).

World Wildlife Fund, “Deforestation”, diakses dari: http://wwf.panda.org/about_our_earth/deforestation/, pada tanggal 5 Agustus 2017.

World Wildlife Fund, “Hutan Indonesia: Penyerap atau Pelepas Emisi Gas Rumah Kaca?”, (Jakarta: WWF Indonesia, 2017).